KB dan Ternak Ayam
Oleh: Drs. Mardiya
Ka Bidang Pengendalian Penduduk
Belum lama ini, tepatnya Senin (27/7), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui media daring Zoom menyelenggarakan acara sosialisasi yang mengangkat topik ternak ayam sebagai upaya peningkatan ekonomi keluarga. Kegiatan yang diselenggarakan di Depok, Jawa Barat ini diikuti oleh lebih dari 3.500 peserta terdiri dari masyarakat umum yang sebagian besar peserta Keluarga Berencana (KB) anggota kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) dan YouTube BKKBN Official ini menghadirkan narasumber selain Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Dr. dr. M.Yani, M.Kes, PKK, juga Praktisi dan Konsultan Budidaya Ayam, Bagus Widiatmoko, S.Pt serta Inisiator Kandang Portabel sekaligus Penulis Buku Peternakan dan Pertanian, Titut Wibisono.
Materi ini menjadi menarik, karena selama ini BKKBN lebih mengarahkan kelompok UPPKS pada usaha ekonomi produktif berupa produk makanan, minuman dan barang kerajinan/souvenir serta usaha perdagangan/jasa seperti membuka warung, menjahit, dll. Sementara usaha ternak ayam yang sebenarnya masih banyak dilakukan penduduk desa belum ditangani secara serius. Padahal apabila usaha ternak ayam ini dikelola dengan baik, memiliki prospek yang sangat cerah. Setidaknya akan mampu meningkatkan pendapatan keluarga sehingga kesejahteraannya meningkat.
Praktisi dan Konsultan Budidaya Ayam, Bagus Widiatmoko, S.Pt memandang bahwa usaha ternak ayam sudah menjadi primadona bagi masyarakat di lingkup rumah tangga untuk berusaha, tetapi terkadang mereka tidak memperhatikan kondisi ayam, makanannya, dan lingkungannya. Padahal, sangat penting untuk memperhatikan kondisi ternak ayam agar bisa tumbuh dengan baik, menghasilkan telur dan berkembang biak dengan sehat. Oleh karena itu, beliau memberikan tips bagaimana cara menyiapkan kandang dan bibit. Dalam menyiapkan kandang, hal penting yang perlu diperhatikan antara lain: bahan kandang tidak boleh korosif dan tahan lama, usahakan membujur dari timur ke barat, posisi kandang harus lebih tinggi dari sekitar dan didesain untuk mudah dibersihkan. Selain itu, pastikan sirkulasi udara baik, buat ukuran kandang sesuai kapasitas dan disarankan menggunakan tipe close house. Lalu, untuk bibit bisa dibeli di perusahaan pembibitan atau bisa menghasilkan bibit sendiri. Bila membeli, maka perlu mengecek jumlah bibit yang dibeli dan memeriksa kondisi kesehatannya dengan mengambil sampel dan ditimbang beratnya. Untuk pakan ayam terdapat manajemen pemberian, yaitu: umur 0-2 bulan diberikan full pakan broiler (ad libitum), umur 2-4 bulan diberikan pakan broiler campur dedek dan jagung (ad libitum 1:3:1), umur 4-6 bulan berikan pakan layer campur jagung (7-8 gram 1:2), umur 6 bulan keatas diberikan pakan layer campur jagung (85 gram 1:1). Selain itu, perhatikan pula manajemen penyimpanannya dengan simpan dalam keadaan kering, lebih tinggi dari lantai, First In First Out (FIFO), tidak boleh disimpan lebih dari 1 minggu, dan terapkan pest control. Kesehatan pun wajib sekali diutamakan dengan pemberian vitamin, menyemprot kandang dengan desinfektan dan insektisida, serta memberikan vaksinasi dan rutin membersihkan kandang.
Sementara itu, Titut Wibisono, sang Inisiator Kandang Portabel mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak orang yang mengeluhkan mengenai ketersediaan lahan untuk kandang ternak ayam, karena kondisi rumah yang sudah padat penduduk menjadi permasalahan utama. Untuk itu, beliau memberikan solusi berupa kandang portabel yang bisa digunakan secara mobile dan di pindah-pindah. Kandang ayam portable dapat digunakan di rumah dan bisa diletakkan dimana-mana. Cara untuk membuat kadang dapat dilakukan dengan menentukan ukuran kandang dan jenis material kayunya. Kemudian menyiapkan alat dan materialnya seperti gergaji, palu, dan melihat design di internet. Untuk ukuran kandang bisa sesuai kondisi, jika hanya ingin memamahbiakkan saja maka dengan ukuran 1 meter x 80 cm bisa diisi ayam dua betina dan satu jantan. Jika untuk mendapat daging bisa isi sekitar 10 ekor ayam dengan ukuran yang sama.
Tentu kita berharap bahwa acara sosialisasi lewat media daring ini tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan saja, tetapi dengan mempertimbangkan segi urgensi dan manfaatnya, BKKBN berani mengambil kebijakan dan langkah strategis untuk mewujudkannya. Pada dasarnya, intensifikasi ternak ayam sebagai bagian dari usaha keluarga, akan menggembirakan kita semua terutama para peserta KB yang tergabung dalam kelompok UPPKS. Lebih dari itu, terobosan ini juga akan mengeratkan kerjasama lintas sektor khususnya dengan OPD yang menangani peternakan. Bila ini dapat direalisasikan, tentu diversifikasi usaha anggota kelompok UPPKS akan makin bertambah dan memberikan peluang lebih banyak pada keluarga untuk maju dan berkembang. Semoga.