Lebaran dan Harmonisasi Keluarga
Oleh: Drs. Mardiya, Ka Bidang Pengendalian Penduduk
Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran merupakan hari yang membahagiakan bagi seluruh umat Islam. Mengapa? Karena hari raya yang jatuh pada tanggal 1 Syawal dalam penanggalan Hijriah ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu setelah selama satu bulan penuh umat Islam berpuasa. Menahan lapar dan dahaga serta menahan nafsu angkara, sejak sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam.
Ada tradisi menarik di masyarakat pada saat lebaran, setelah sehari sebelumnya membayar zakat, malamnya melakukan takbir dan paginya melaksanakan shalat Idul Firi. Tradisi yang dimaksud adalah saling berjabat tangan, saling memaafkan satu sama lain atas semua kesalahan yang dilakukan selama setahun terakhir. Hal lain yang dilakukan adalah saling silaturahmi/mengunjungi dan menikmati hidangan lebaran yang disediakan di hari yang suci tersebut.
Terkait dengan tradisi saling memaafkan, ada semacam aturan tak tertulis yang mengisyaratkan bahwa kita harus “sowan” pada orangtua kita terlebih dahulu untuk menghaturkan segala kesalahan yang selama ini dilakukan selaku anak agar dapat dimaafkan oleh ayah dan atau ibu sehingga dosanya akan dihapuskan oleh Allah SWT. Hal ini bila dapat dilakukan dengan baik, dan orangtua juga memberi maaf, tentu akan berdampak positif pada keharmonisan keluarga. Artinya, tradisi saling memaafkan ini akan membuat hubungan antara anggota keluarga kembali baik setelah sebelumnya mungkin terasa ada ganjalan di hati atau hubungannya sempat renggang karena beda pendapat terhadap suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah dipahami bersama bahwa keharmonisan hubungan antar anggota keluarga menjadi salah satu faktor penentu sebuah keluarga ini termasuk keluarga sejahtera (berkualitas) atau tidak. Karena ukuran sejahtera sekarang ini merujuk pada tiga hal, yakni ketenteraman, kemandirian dan kebahagiaan. Semua itu tentu tidak akan dapat dicapai manakala hubungan antar anggota keluarga kurang harmonis, yang ditandai dengan adanya perbedaan pendapat yang tajam, sering cekcok atau bahkan terjadi pertikaian secara fisik.
Ketenteraman itu terkait dengan suasana hati. Sekecil apapun permasalahan yang ada dalam keluarga bila tidak segera di atasi tentu akan membuat hati seluruh anggota keluarga merasa kurang tenteram. Permasalahan itu bisa saja antara ayah dengan ibu (suami istri), ayah dengan anak, ibu dengan anak atau antar anak. Perbedaan pendapat bila tidak segera dicarikan solusi atau jalan tengah bisa jadi bibit pertengkaran atau pertikaian. Hal ini bisa saja diperparah oleh rasa tidak percara atau saling curiga yang sebelumnya telah terjadi antar anggota keluarga.
Sementara kemandirian itu utamanya terkait dengan kemandirian ekonomi. Hal ini tentu akan sulit dicapai apabila hubungan antar anggota keluarga tidak harmonis. Tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga bisa jadi tidak dijalankan dengan baik ketika ada ganjalan di hati yang menyebabkan kurangnya semangat untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara baik. Seorang ibu tentu akan lesu untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya ketika merasa tersakiti hatinya oleh kata-kata kasar suaminya atau tidak dihargai anaknya. Begitu sebaliknya, bisa jadi seorang ayah atau suami kurang semangat bekerja manakala terlalu sering diomeli oleh istrinya. Anak-anaknya kurang semangat membantu orangtuanya ketika sering dimarahi oleh orangtuanya hanya karena kesalahan kecil.
Sedangkan kebahagiaan itu baru akan dapat dicapai ketika keluarga merasa tenteram dan mandiri secara ekonomi. Seluruh anggota keluarga akan merasa bahagia manakala seluruh kebutuhannya baik fisik dan non fisik tercukupi. Fisik berkaitan dengan tercukupinya sandang, pangan dan papan serta tercukupi kebutuhan lainnya yang menunjang kelancaran kerja, belajar dan sebagainya. Non fisik berkaitan dengan tercukupinya kebutuhan hiburan, aktualisasi diri dan harga diri yang menyebabkan seluruh anggota keluarga merasa nyaman dan tenang.
Di sinilah, tradisi saling memaafkan di hari raya Idul Fitri atau lebaran punya makna positif dalam rangka harmonisasi keluarga. Lebaran menjadi momentum yang baik untuk saling memaafkan agar seluruh anggota keluarga merasa terlahir kembali dalam kesucian, tanpa dosa dan tanpa beban. Artinya, setelah saling memaafkan antar anggota keluarga, semua akan merasa tenang, tidak ada ganjalan di hati dan tidak ada hal yang menghalangi untuk bisa bekerja/belajar dengan baik. Menjalankan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing secara sungguh-sungguh serta saling bantu dan menguatkan untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera atau berkualitas.
Keluarga yang sejahtera atau berkualitas tentu akan dapat melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik. Bukan hanya terkait dengan persoalan ekomomi, tetapi juga terkait dengan masalah agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, sosialisasi dan pendidikan, reproduksi dan pembinaan lingkungan baik fisik maupun non fisik. Selain itu keluarga harus bisa memainkan perannya sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi benteng ketahanan bangsa dan negara. Keluarga harus mampu memperkuat dukungannya terhadap kemajuan dan kemandirian bangsa dengan mencetak generasi unggul yang mampu menjadi pelaku pembangunan yang handal.
Source: Bidang Dalduk