Perlunya Mengawinkan KB dengan Pariwisata

Perlunya Mengawinkan KB dengan Pariwisata

Oleh Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Maraknya pengembangan obyek wisata baru di banyak daerah di Indonesia mengiringi program Visit Wonderful Indonesia, harus disikapi secara bijak dan kreatif oleh para pengelola KB yang programnya telah berkembang menjadi Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Bijak, karena obyek wisata selain memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan kesejahteraan keluarga, juga memberikan ekses pada degradasi moral pada sebagian sebagian warga terutama generasi muda yang terpengaruh oleh kebiasaan negatif sebagian wisatawan. Kreatif, karena obyek wisata baru akan memberikan peluang pada siapapun untuk masuk di dalamnya dan memberikan warna yang menguatkan ketertarikan wisatawan untuk datang dan berkunjung ke suatu obyek wisata tertentu.

Mendasarkan pengalaman selama ini, di mana obyek wisata yang berkembang selalu saja ada ekses negatifnya terhadap moralitas sebagian warganya serta belum dijadikannya tempat wisata untuk promosi KB secara efektif dan efisien, sudah saatnya diperlukan upaya “mengawinkan” KB dengan pariwisata agar masyarakat memperoleh manfaat ganda dengan upaya tersebut. Manfaat ganda yang dimaksud adalah dapat ditekannya ekses negatif keberadaan tempat wisata karena gencarnya promosi pesan-pesan moral di satu sisi serta berkembangnya program KB di tempat wisata (termasuk kegiatan pendukung) yang secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan kesejahteraan keluarga di sisi lainnya.

Mengawinkan program KB dengan Pariwisata, setidaknya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : Pertama, lewat promosi, penjualan produk maupun atraksi. Mengawinkan KB dengan Pariwisata lewat promosi dilakukan dengan cara mengintegrasikan promosi tempat wisata dengan program KB. Misalnya, menginformasikan tempat wisata yang dipromosikan merupakan tempat ideal untuk wisata keluarga, karena merupakan kawasan bebas mesum, bebas narkoba, bebas minuman keras, bebas kejahatan atau bebas kekerasan dan merupakan kawasan yang ramah bagi anak. Pesan-pesan moral terkait dengan pelaksanaan 8 fungsi keluarga dapat dipajang di tempat-tempat strategis, seperti Sudahkah Anda sholat? Kesopanan Anda sangat kami hargai, Jagalah Kesopanan, Tunjukkan Senyuman dan Persahabatanmu! Berikan rasa nyaman dan aman pada sesama pengunjung, Ayo Ikut KB, 2 Anak Cukup, Jangan korbankan masa depanmu untuk perbuatan sia-sia, Berikan tauladan yang baik dengan membuang sampah pada tempatnya, Lelah Kerja Yuk Berwisata, dan sebagainya.

Kedua, lewat penjualan produk. Mengawinkan KB dengan Pariwisata dapat dilakukan dengan pelibatan kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) binaan BKKBN Bersama OPD KB di Kabupaten/Kota dalam penjualan produk makanan minuman, barang kerajinan dan jasa di tempat wisata yang dikelola oleh Pokdarwis. Penjualan produk yang berlabel kelompok UPPKS dengan pesan KB nya ini dapat ditata sedemikian rupa pada deretan warung-warung makanan di tempat wisata atau di pusat penjualan produk khas tempat wisata tersebut.

Ketiga, lewat atraksi/kegiatan. Mengawinkan KB dengan Pariwisata lewat atraksi dapat dilakukan dengan memadukan pentas seni budaya untuk menambah daya tarik wisata dengan kegiatan yang selama ini mendukung program KB. Seperti peragaan kegiatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R), Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Lansia (BKL), maupun pentas seni untuk mendukung Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) KB Pria (Jathilan/Reog Soreng). Juga aktivitas di Kampung KB yang kegiatannya sangat beragam.

Dengan adanya Kelompok Seni Peduli Keluarga Berencana (KSP-KB) di suatu daerah tentu akan menambah variasi atraksi wisata yang dipadukan dengan KB baik dari sisi konten isi maupun penamaan/nomenklatur atraksi seperti Tarian Generasi Berencana, Guyon Maton KB, Limbukan KB, Campursari KB, Senam Kuhias Kenanganku dan sebagainya.

Walhasil, bila upaya pengawinan KB dengan Wisata berhasil, tentu akan meningkatkan gairah dan daya tarik pariwisata di banyak daerah di Indonesia. Kondisi ini dipastikan akan menambah dari tarik wisata yang dikembangkan yang imbasnya menambah jumlah wisatawan yang datang baik domestik maupun manca negara, menambah waktu lama tinggal serta menambah income masyarakat/daerah sehingga kesejahteraannya meningkat. Dan yang lebih penting, kesan nyinyir yang selama ini melekat di banyak tempat wisata sebagai lahan subur prostitusi, tempat mesum dan tempat berperilaku negatif lainnya dapat dikurangi atau sama sekali dihilangkan.