Memimpikan Dunia Tanpa Pertumbuhan Penduduk

MEMIMPIKAN DUNIA TANPA PERTUMBUHAN PENDUDUK 

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Telah kita sadari bersama, pertumbuhan penduduk dunia semenjak revolusi industri di Inggris menjelang tahun 1750 menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Betapa tidak, sejak saat itu perkembangan penduduk dunia dari abad ke abad menunjukkan pertumbuhan semakin cepat. Jika pada abad ke-17 jumlah penduduk dunia 623 juta jiwa, satu abad kemudian jumlah penduduk menjadi 906 juta, dan pada abad ke-19 telah membengkak menjadi 1.608 juta jiwa. Lebih mengejutkan lagi menurut catatan Demographic Yearbook and Reference Bureu Inc., pada tahun 1950 telah menunjukkan jumlah 2.509 juta jiwa yang berarti hampir 2 kali lipat. Bahkan pada tahun 1965 jumlah penduduk dunia telah menjadi lebih dari 3 milyar jiwa.

Namun semenjak dekade 1965 dan 1975 dengan dijalankannya program KB hampir di seluruh negara, penurunan dari kesuburan penduduk ini cukup mengagetkan. Turunnya jumlah penduduk dari yang semestinya ternyata telah menjadi kecenderungan baik di negara yang telah maju maupun sedang berkembang. Dalam artikel yang pernah dtulis oleh Donald J. Bogue dan Amy Ong T’sui, disebutkan bahwa selama 7 tahun saja, yakni dari tahun 1968 hingga 1975 angka kesuburan total dunia telah turun sebesar 12 persen yakni dari Total Fertilty Rate (TFR) sebesar 4,635 menjadi 4,068) yang berarti setiap keluarga bertambah kecil 0,5 anak. Besar perubahan ini tidak sama di setiap negara, tetapi kebanyakan negara-negara di benua Afrika mencatat jumlah penurunan yang meyakinkan, dan menunjukkan gejala semakin nyata untuk masa-masa mendatang. Atas dasar itu, mereka berani meramalkan bahwa pada tahun 2025 nanti penduduk dunia hampir tidak bertambah lagi. Ramalan tersebut kiranya perlu kita kaji kembali mungkin tidaknya terjadi dalam kenyataan, mengingat pada tahun 2010-an saja dunia masih harus bergelut dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Akan semudah itukah pertambahan penduduk dunia dikendalikan dalam waktu yang relatif singkat?

KB dan Penurunan Kesuburan

Berkat KB, penurunan angka kesuburan sedunia, sempat mengejutkan ahli-ahli kependudukan. Sebagai contoh, PBB memuat ramalan kependudukan tahun 1973 yang memprediksikan tingkat kesuburan pada tahun 1975 jauh di atas tingkat kesuburan yang sebenarnya terjadi di setiap negara. Begitu juga untuk perkiraan tahun 1990 dan abad 21 mendatang. Penurunan angka kesuburan di negara-negara maju Eropa, Amerika dan Oceania (termasuk Jepang) memang sudah diduga sebagai kelanjutan pola perkembangan yang dimulai tahun 1950-an setelah “baby boom” pasca perang dunia berhenti. Tetapi penurunan di negara-negara berkembang sangat mengejutkan.

Penelitian secara terpisah yang dilakukan oleh K.C. Zachariah dari World Bank serta W. Parker Mauldin dan Bernard Berelson dari Population Council, menerangkan bahwa menurunnya laju pertumbuhan penduduk di negara berkembang sangat dipengaruhi oleh besarnya dan kualitas program KB yang digalakkan. Negara-negara yang punya program tersebut dan terbiayai dengan baik serta menyeluruh cenderung menunjukkan penurunan angka kelahiran yang lebih cepat dibanding negara-negara yag tidak serius melaksanakan program itu. Berdasarkan pengamatan Mauldin dan Berelson dengan membuat sebuah “indeks usaha KB” bagi setiap negara berkembang, yang mendasarkan pada tingkat usaha pemerintah di dalam mengurangi kesuburan, tersedianya kontrasepsi, sampai di mana KB dikembangkan, dan kriteria-kriteria lain yang semacam, mereka mendapatkan kesimpulan bahwa indeks KB ini memiliki korelasi yang lebih besar terhadap turunnya kelahiran dibandingkan delapan indeks lain seperti tingkat melek huruf, pendidikan sekolah bagi anak-anak, dan harapan untuk hidup, yang mereka gunakan untuk mengukur perkembangan sosial dan ekonomi.

Hasil uji kembali yang dilakukan oleh Donald J Bogue dan Amy Ong Tsui terhadap penemuan Mauldin-Barelson dengan mengunakan pengukuran teliti dari perubahan kesuburan yang telah mereka buat dan teknik-teknik statistik yang dirancang untuk mengisolir efek-efek dari beberapa variabel yang berlainan serta dengan mengambil perubahan kesuburan sebagai faktor yang diselidiki, diperoleh hasil bahwa penurunan kesuburan terbesar tidak terjadi di negara berkembang yang mengalami perkembangan ekonomi terbesar. Begitu juga negara-negara yang telah berhasil menurunkan angka kesuburannya. Melainkan terjadi pada negara-negara dengan angka kelahiran yang tinggi. Kesimpulan lain yang diperoleh adalah bahwa penurunan kesuburan lebih banyak terjadi di negara-negara dengan kematian anak-anak yang tinggi daripada di negara yang angka kematian bayinya rendah.

Penemuan-penemuan itu telah menumbangkan pendapat para ahli kependudukan yang cenderung bersikap pesimis tentang manfaat KB di negara-negara berkembang. Sejak semula mereka beranggapan bahwa naiknya standar hidup, diberantasnya buta huruf, industrialisasi, urbanisasi, turunnya angka kematian dan perubahan-perubahan yang serupa adalah faktor-faktor utama dalam menurunkan angka kesuburan. Dalam ramalan PBB misalnya, dianggap bahwa program KB hanya berpengaruh kecil, suatu ketidakpercayaan akan pengaruh KB yang berakar pada Doktrin Malthus yang menyatakan bahwa jumlah penduduk cenderung berkembang pada titik maksimum kemampuan lingkungan untuk menampungnya. Atas dasar itu, menurut ramalan PBB malapetaka akibat peledakan penduduk tidak akan terjadi di Eropa dan Amerika Utara karena revolusi industri dan secara analogi malapetaka tersebut dapat dihindarkan hanya dengan pembangunan ekonomi.

Dalam teori, turunnya kesuburan yang besar seharusnya dijumpai di negara yang telah mengalami perubahan sosial yang lebih besar ke arah kehidupan kota. Ternyata teori tersebut tidak benar. Penurunan kesuburan terbesar juga tidak terjadi di negara-negara di mana persentase wanita yang bekerja di bidang industri non pertanian lebih besar, ataupun di negara-negara yang wanita generasi mendatang bisa mendapatkan pendidikan. Sebaliknya, penurunan angka kelahiran terbesar terjadi di negara-negara yang paling giat mengusahakan KB.

Program KB berperan lebih besar dalam turunnya angka kelahiran dari semua variabel lain termasuk pembangunan. Pernyataan ini diperkuat oleh kesimpulan Bogue dan Tsui setelah melakukan test sederhana tetapi meyakinkan tentang pengaruh KB. Mula-mula 6 variabel selain KB dibiarkan mempengaruhi perubahan kesuburan. Kemudian analisa dilakukan dengan 7 variabel termasuk usaha KB. Pengaruh terhadap turunnya kesuburan naik dari 29 persen menjadi 47 persen setelah variabel KB ditambahkan. Hal ini berarti pengaruh KB menambah 62 persen dari pengaruh semula. Tampaknya cukup meyakinkan bahwa KB adalah faktor penyebab yang utama. Oleh sebab itu akhirnya wajar kiranya, jika kemudian ada usaha-usaha besar dari PBB, US Agency for International Development, International Planned Parenthood Federation, sejumlah usaha swasta dan organisasi nasional, serta pemerintah negara maju yang mengeluarkan biaya milyaran dollar untuk KB di negara berkembang setelah diperoleh kesimpulan yang jelas dari analisa ahli-ahli dari World Bank dan Population Council serta temuan Donald J. Bogue dan Amy Ong Tsui bahwa usaha-usaha penurunan kesuburan melalui KB lebih cepat dari yang akan terjadi tanpa usaha ini. Bantuan yang diberikan kebanyakan dalam bentuk materi dan keuangan untuk usaha pekerja KB, dan memberikan informasi, nasihat, dan bantuan.

Turunnya Kesuburan di Masa Datang

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di muka, sekaligus sejalan dengan apa yang telah diuraikan oleh Donald J. Bogue dan Amy Ong Tsui, bisa diramalkan masa depan yang lebih realistis dan lebih tepat dari pada ramalan kependudukan di masa lalu. Gambaran tentang masa depan dunia dapat dibuat berdasarkan tiga macam asumsi. Pertama, bahwa kecepatan turunnya tingkat kesuburan sebanding dengan jumlah usaha KB yang dilaksanakan dan dengan kualitas usaha-usaha ini. Kedua, bahwa turunnya angka kesuburan akan menjadi fungsi angka kelahiran itu sendiri. Dan ketiga, bahwa kemajuan yang tetap, walaupun tidak cepat akan terjadi di bidang pembangunan sosial dan ekonomi lainnya termasuk diteruskannya usaha menanggulangi kematian anak-anak, memberantas buta huruf, meningkatkan standar hidup, dan menggiatkan pembangunan masyarakat. Oleh sebab itu wajar kiranya jika faktor utama yang menentukan jalannya kependudukan suatu negara ialah kapan dan bagaimana keseriusannya dalam membina Program KB Nasional.

Dengan anggapan-anggapan ini, berapa banyak penurunan yang bisa kita harapkan pada tahun 2025 nanti. Berdasarkan penelitian kecenderungan-kecenderungan sekarang dalam negara-negara yang mempunyai program KB besar (termasuk Indonesia), dapat diramalkan bahwa pada tahun 2025 nanti kira-kira setengah dari semua negara dunia sudah keluar dari kategori kesuburan tinggi. Yang lebih meyakinkan adalah pernyataan Donald J. Bogue, bahwa dalam perkiraan “menengah”nya yang paling mungkin ditempuh dalam keadaan yang sesungguhnya, hampir tiga per empat dari penduduk dunia sudah keluar dari kelompok kesuburan tinggi. Dengan demikian, hasil senyatanya pertumbuhan penduduk dunia pada tahun 2025 akan jauh berbeda dengan ramalan seperti badan-badan PBB, Biro Sensus AS dan World Bank. Dalam tahun 2000 saja, PBB dalam perkiraan menengah meramalkan jumlah penduduk dunia 6,2 milyar, Biro Sensus AS 6,4 milyar, sementara gambaran dari Dr. K.C. Zachariah dari World Bank sebesar 6 milyar pada awal abad 21. Dan ini ternyata yang mendekati kebenaran, karena penduduk dunia ke-6 milyar tercapai pada tanggal 12 Oktober 1999.

Hasil mengikutsertakan faktor KB dalam gambaran kependudukan dunia tahun 2000 memang mengejutkan. Tetapi lebih mengejutkan lagi kalau diterapkan pada tahun 2050. Menurut ramalan Bogue dan Tsui, penduduk dunia saat itu berjumlah 8,1 milyar, dan pertambahan penduduk rata-rata hampir nol. Kalau perkiraan rendah yang terjadi, pertambahan penduduk sudah mencapai nol pada tahun 2050, dengan penduduk sebesar 7,8 milyar.

Namun kesemuanya itu bisa terjadi dengan syarat jika program bantuan KB internasional yang bermodal dan disponsori dengan baik oleh negara-negara maju selama seperempat abad mendatang terus berlanjut. Diharapkan program-program ini akan terus berkembang meliputi semua negara dan akan ada perbaikan di dalam program KB tiap negara.

Kalau ini terjadi, kita akan optimis akan datangnya suatu era ”tanpa pertumbuhan penduduk” di dunia ini. Tetapi jika KB tidak diperhatikan, diperlemah atau menjadi non efektif akibat terlalu banyak dicampuri program lain, kecenderungan angka kelahiran akan menanjak ke proyeksi tinggi. Bahkan jika KB dihentikan atau cukup dikurangi, jumlah penduduk dunia sangat mungkin akan melampaui perkiraan kita yang tertinggi sekalipun.