Memahami Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

MEMAHAMI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

TUMBUH KEMBANG ANAK

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Selama ini kita sebagai orangtua masih menganggap anak sebagai harta yang tak ternilai harganya. Karena selain sebagai tempat bergantung di hari tua, anak juga menjadi asset yang tak ternilai harganya untuk mengangkat derajat orangtua, penyambung cita-cita, menjadi sumber topangan ekonomi ketika orangtua tidak mampu lagi bekerja serta menjadi sumber kebahagiaan bagi pasangan suami isteri. Tentu saja anak yang dimaksud adalah anak yang berkualitas, yakni anak yang tidak saja sehat, cerdas dan trampil, tetapi juga berbudi pekerti luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menjadikan anak yang berkualitas, sudah barang tentu bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus dilakukan, tetapi juga banyak pula yang harus dipahami dan dimengerti. Salah satunya adalah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Faktor-faktor ini perlu diperhatikan, agar kita tidak salah langkah dalam mendidik anak serta tidak memaksakan kehendak pada anak sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Ada dua faktor utama yang mempengaruhi tumbuhkembang anak, yakni faktor bawaan dan faktor lingkungan. Faktor bawaan atau keturunan (hereditas) merupakan faktor pertama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Faktor ini dapat diartikan sebagai semua ciri atau karakteristik individu yang diwariskan kepada anak atau segala potensi baik fisik maupun psikis yang dimiliki seseorang sejak masa pembuahan sebagai warisan dari orangtua. Faktor bawaan disebut pula sebagai faktor endogen. Faktor endogen adalah faktor yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga kelahiran. Oleh karena individu itu terjadi dari bertemunya ovum dari ibu dan sperma dari ayah, maka tidak mengherankan kalau faktor endogen yang dibawa oleh individu itu mempunyai sifat-sifat seperti orangtuanya. Seperti pepatah Indonesia yang menyatakan “Air di cucuran akhirnya jatuh ke pelimbahan juga” ini berarti bahwa keadaan atau sifat-sifat dari anak itu tidak meninggalkan sifat-sifat dari orangtuanya.

Ada beberapa hal di faktor endogen ini. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap individu yang dilahirkan ke dunia akan membawa pembawaan tertentu, terutama sifat-sifat yang berhubungan dengan faktor kejasmanian. Misalnya bentuk/struktur tubuh, warna rambut, warna kulit, warna mata, bentuk wajah, dan sebagainya. Sifat-sifat ini merupakan sifat-sifat yang mereka dapatkan karena faktor keturunan, seperti yang dikenal dengan hukum Mendel. Faktor pembawaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani umumnya tidak dapat diubah. Bagaimanapun besarnya keinginan orang untuk mempunyai warna kulit yang putih bersih, tidak akan terlaksana kalau faktor keturunan kulitnya berwarna hitam atau coklat, demikian pula halnya dengan yang lain-lain.

Disamping itu individu juga mempunyai sifat-sifat bawaan psikologis yang erat kaitannya dengan keadaan jasmani maupun temperamen. Temperamen merupakan sifat-sifat bawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian seseorang, yaitu yang berhubungan dengan fungsi-fngsi fisiologis seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain yang terdapat dalam diri manusia.

Hypocrates dan Galenus menghubungkan sifat-sifat kejasmanian (struktur kejasmanian) dengan sifat-sifat psikologis dari individu yang bersangkutan. Menurut keduanya, ada beberapa tipe temperamen manusia, yaitu: sanguinikus, flegmatikus, cholerikus, melancholikus. Temperamen itu berbeda dengan karakter atau watak, yang kadang-kadang kedua pengertian itu disamakan satu dengan yang lain. Karakter atau watak yaitu merupakan keseluruhan dari sifat seseorang yang nampak dalam perbuatannya sehari-hari, sebagai hasil pembawaan maupun lingkungan. Temperamen pada umumnya bersifat konstan, sedangkan watak atau karakter lebih bersifat tidak konstan, dapat berubah-ubah sesuai pengaruh lingkungan.

Disamping individu memiliki faktor bawaan yang berhubungan dengan sifat-sifat kejasmanian dan temperamen, maka individu masih mempunyai sifat-sifat pembawaan yang berupa bakat (aptitude atau talenta). Bakat bukanlah merupakan satusatunya faktor yang dibawa individu sewaktu dilahirkan, melainkan hanya merupakan salah satu faktor saja. Bakat merupakan potensi yang berisi kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang ke sesuatu arah. Bakat bukanlah sesuatu yang telah jadi, yang telah terbentuk pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan potensi-potensi saja. Agar potensi ini menjadi aktualisasi dibutuhkan kesempatan untuk mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut. Karena itu kemungkinan ada bakat yang tidak dapat berkembang atau tidak dapat beraktualisasi karena kesempatan tidak atau kurang memungkinkan. Untuk mengaktualisasikan bakat diperlukan lingkungan yang baik atau mendukung. Di sinilah letak peranan lingkungan dalam perkembangan individu. Karena itu langkah yang baik adalah memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat sebaik-baiknya. Untuk dapat mengetahui bakat seseorang umumnya dipergunakan tes bakat (aptitude test).

Dalam hal-hal tertentu, faktor bawaan di sini termasuk juga kerentanan terhadap penyakit. Misalnya orangtua yang memiliki penyakit gula juga akan menurun pada anaknya, juga penyakit sesak nafas, epilepsi, dan lain-lain. Aspek individu yang bersifat bawaan ini memiliki potensi untuk untuk berkembang. Namun sejauh mana perkembangan dan kualitas perkembangan itu terjadi tergantung pada kualitas bawaan itu sendiri dan lingkungan yang mempengaruhi.

Masih terkait dengan faktor pembawaan, penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa anak kembar identik memiliki tinggi badan yang relatif sama dibandingkan dengan anak kembar yang berasal dari 2 telur (kembar fraternal). Kedua orangtua memberi sumbangan yang sama besar bagi perkembangan tinggi badan anak-anak mereka. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dari dua orangtua yang memiliki badan tinggi, maka anaknya akan memiliki badan yang tinggi pula. Demikian sebaliknya, anak yang pendek kemungkinan besar memiliki orangtua yang tidak tinggi juga.

Menurut Teori Nativisme yang dipelopori seorang ahli filsafat Schopenhauer, manusia lahir sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Berdasarkan teorinya, taraf kecerdasan sudah ditentukan sejak anak dilahirkan. Para ahli psikologi Loehlin, Lindzey dan Spuhler berpendapat bahwa taraf intelegensi 75% – 80% merupakan faktor keturunan.

Faktor yang kedua adalah faktor lingkungan. Lingkungan dapat diartikan sebagai berbagai peristiwa, situasi dan kondisi di luar individu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tumbuh kembang anak atau perkembangan individu. Lingkungan ini terdiri atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang bersifat fisik yang ada di sekitar individu seperti keadaan rumah, pekarangan, sawah, tanah, air, musim dan sebagainya. Lingkungan fisik sering disebut juga lingkungan alam. Lingkungan alam yang berbeda akan memberi pengaruh yang berbeda pula pada individu. Misalnya: daerah pegunungan akan memberikan pengaruh yang lain bila dibandingkan dengan daerah pantai. Daerah yang mempunyai musim dingin akan memberikan pengaruh yang berbeda dengan daerah yang penuh dengan musim panas. Sedangkan lingkungan sosial adalah meliputi seluruh manusia dengan berbagai interaksinya yang menciptakan lingkungan pergaulan yang khas. Lingkungan sosial merupakan lingkungan masyarakat, di mana dalam lingkungan masyarakat ini terdapat interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan masyarakatpun akan memberikan pengaruh tertentu terhadap perkembangan individu.

Lingkungan sosial biasanya dibedakan atas: (1) Lingkungan sosial primer, yaitu lingkungan sosial di mana terdapat hubungan yang erat antara anggota satu dengan anggota yang lain, anggota satu saling kenal mengenal dengan baik dengan anggota lain. Oleh karena itu di antara anggota telah ada hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan sosial ini akan lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang hubungannya tidak erat; (2) Lingkungan sosial sekunder, yaitu lingkungan sosial yang hubungan anggota satu dengan anggota lain agak longgar. Pada umumnya anggota satu dengan anggota lain kurang atau tidak saling kenal mengenal. Karena itu pengaruh lingkungan sosial sekunder akan kurang mendalam bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan sosial primer. Dengan demikian, lingkungan juga sering diterjemahkan sebagai keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Faktor lingkungan disebut juga faktor eksogen, yaitu faktor yang datang dari luar individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang sering dikemukakan dengan pengertian milleu. Pengaruh pendidikan dan pengaruh lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu yang bersangkutan. Tidak demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran dan sistematis untuk mengembangkan potensi-potensi ataupun bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan cita-cita atau tujuan pendidikan. Dengan demikian pendidikan itu bersifat aktif, penuh tanggung jawab dan ingin mengarahkan perkembangan individu ke suatu tujuan tertentu.

Sekalipun pengaruh lingkungan tidak bersifat memaksa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa peranan lingkungan cukup besar dalam perkembangan individu. Lingkungan tumbuh kembang anak dapat berupa lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan kelompok teman sebaya.

Lingkungan keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang menguntungkan untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Hal itu berarti, sikap dan perlakuan orangtua terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian dan perkembangan psikis anak. Lingkungan keluarga yang kurang/tidak menunjang proses tumbuh kembang anak atau dikatakan sebagai lingkungan keluarga beresiko tinggi adalah apabila kondisi keluarga tersebut: (1) Umur ibu kurang dari 20 tahun, (2) Jumlah anak usia kurang dari 2 tahun ada dua atau lebih, (3) Ibu/pengasuh tidak tahu mengenai kebutuhan anak dan sulit menerima pesan-pesan kesehatan, yang ditandai antara lain:: tidak tahu mengenai hal-hal umum yang diketahui oleh masyarakat, tidak dapat memahami petunjuk-petunjuk kesehatan yang sebenarnya, tidak dapat menjawab pertanyaan yang biasanya dapat dijawab para ibu mengenai anaknya, (4) Ibu/pengasuh anak mengalami gangguan mental atau tekanan jiwa yang berat ditandai oleh antara lain sebagai berikut: tampak putus asa, mudah menangis, bereaksi sangat lambat, acuh pada sekitarnya, perilaku aneh, suka tertawa sendiri, gelisah, mondar-mandir tanpa tujuan, (5) Ibu/pengasuh anak mengabaikan anak atau acuh terhadap tumbuh kembang anak, antara lain ditandai: menjelek-jelekkan anak, memukul anak suatu persoalan kecil, tidak mengetahui data tentang anak yang pada umumnya diketahui oleh para ibu, misalnya: kapan anak diimunisasi, penyakit yang pernah diderita anak, memperlihatkan sikap tidak senang dalam pembicaraan terhadap anaknya, (6) Rumah yang kacau dan kotor, (7) Ayah sering melakukan kejahatan, minum alkohol, atau ada gangguan jiwa, sering mabuk, (8) Hubungan suami isteri yang buruk, yang ditandai oleh orangtua sering bertengkar di depan anak-anak, fekerasan fisik antara orangtua, suami sering memukul isteri, (9) Kemiskinan yang ditandai oleh hal-hal sebagai berikut: lingkungan tempat tinggal yang buruk, lantai tanah, atap bocor, gubuk buruk, alat makan yang dipakai tidak mencukupi untuk seluruh anggota keluarga perlengkapan tidur tidak mencukupi, tidak mempunyai baju ganti, makanan yang disediakan secara kuantitas dan kualitas tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Sementara kekurangan gizi dalam makanan menyebabkan pertumbuhan anak terganggu yang akan mempengaruhi perkembangan seluruh dirinya.

Lingkungan sekolahh merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, pendidikan dan latihan dalam rangka membantu anak agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosional maupun sosial. Sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak setelah keluarga, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun berperilaku. Ada beberapa alasan mengapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak: (1) Anak sebagai siswa harus hadir di sekolah, (2) Sekolah memberikan pengaruh pada anak secara dini, terutama dalam hal membangun konsep diri, (3) Anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada tempat lain di luar rumah, (4) Sekolah memberikan kesempatan anak untuk meraih sukses, (5) Sekolah memberikan kesempatan pada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.

Sedangkan kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi anak mempunyai peranan cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya. Peranan ini semakin penting terutama pada saat terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat seperti perubahan bentuk keluarga dari keluarga besar ke keluarga kecil, kesenjangan antara generasi tua dan muda, dan peruasan jaringan komunikasi di antara anak dan remaja. Peranan kelompok teman sebaya bagi anak adalah memberi kesempatan untuk berinteraksi dengan anak lain, mengontrol tingkah laku sosial dan mengembangkan ketrampilan dan minat yang relevan dengan usianya.