Pentingnya Meningkatkan Kualitas Lingkungan Keluarga

PENTINGNYA MENINGKATKAN KUALITAS

LINGKUNGAN KELUARGA

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Sebagai anggota keluarga, kalau kita berbicara tentang hidup sejahtera, sudah pasti tidak akan lepas dari kondisi lingkungan keluarga kita, baik fisik maupun non fisik. Ini seakan menjadi kodrat. Soalnya, selain kita membutuhkan tempat hidup dan beraktivitas yang bersih, sehat, jauh dari kekumuhan dan kesemrawutan agar tidak mudah stress dan uring-uringan, juga membutuhkan hubungan yang baik dan harmonis dengan orang tua, saudara, teman dan orang-orang di sekitarnya agar kita merasa aman, nyaman, dan damai dalam menjalani kehidupan ini.

Realitas tersebut menyadarkan kita bahwa meningkatkan kualitas lingkungan keluarga menjadi sesuatu yang sangat penting dan berarti. Sayangnya, kita sering melupakan hal yang satu ini. Belakangan, manakala berbicara tentang kesejahteraan hidup, kita cenderung berorientasi pada aspek ekonomi dan materi. Sepertinya kita dapat hidup terlepas dari orang lain dan lingkungan hidup sekitar. Kita pun seakan menjadi kurang yakin, apa makna sebuah rumah tinggal yang bersih dan hubungan sosial yang bagus manakala kebutuhan ekonomi keluarga kita tidak tercukupi. Itu adalah pandangan yang salah. Hidup ini bukan sekedar menuruti hawa nafsu, melainkan memiliki makna yang lebih luas saat kita ingat amanah yang kita emban selaku makhluk Tuhan, yakni sebagai kafilah di muka bumi yang mestinya berguna bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Oleh sebab itu, membangun lingkungan keluarga agar kualitasnya meningkat, terlebih di saat sekarang, menjadi sesuatu yang sangat urgen.

Kita sangat memahami, bahwa keluarga merupakan lingkungan utama tempat terbentuknya kepribadian sekaligus pranata sosial pertama yang mengemban fungsi strategis dalam membekali anak-anak kita yang tengah tumbuh dan berkembang. Di dalam keluarga pula, terjadi proses persemaian nilai-nilai moral, agama, kemanusiaan, kebangsaan dan keadilan sosial. Pada gilirannya nanti, kesemuanya itu akan menentukan kondisi masyarakat, bangsa dan negara menjadi baik atau buruk, tergantung kualitas keluarga-keluarga yang terdapat di dalamnya. Bilamana keluarga-keluarga kita baik kualitasnya, tentunya masyarakat, bangsa dan negara kondisinya juga akan baik. Sebaliknya bila kondisi keluarga-keluarga kita buruk kualitasnya, maka akan buruk pula kondisi masyarakat dan bangsanya. Tak pelak lagi, konflik, kerusuhan, perpecahan dan saling curiga dan saling bunuh, akan menjadi warna kehidupan sehari-hari. Yang berarti pula, jauh dari suasana aman dan nyaman.

Meningkatkan kualitas lingkungan keluarga, harus menyeimbangkan antara kualitas lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Artinya, tidak boleh hanya satu sisi yang dikembangkan, sementara yang lain ditinggalkan. Keduanya harus berjalan selaras dan serasi. Sehingga keduanya dapat bersinergi membangun suasana hidup aman, nyaman dan tenteram.

Lingkungan fisik keluarga mencakup lingkungan fisik dalam rumah yang meliputi bagaimana kondisi bangunan rumah, tata guna ruang, sirkulasi udara dan pencahayaan. Rumah yang baik adalah rumah yang lantainya bukan dari tanah sehingga mudah dibersihkan dan tidak menjadi sumber penyakit. Rasio luas lantai rumah per penghuni juga tidak kurang dari 8 meter persegi. Harus dipisahkan pula ruang keluarga, tempat bermain anak-anak dengan dapur, sama halnya dengan kamar tidur anak dengan kamar tidur orang tua. Tidak kalah pentingnya, meskipun rumah yang dimiliki sederhana, sirkulasi dan pencahayaan udara haruslah lancar agar kondisi ruangan tidak menjadi lembab dan pengap. Caranya, jendela dan ventilasi harus dibuat pada setiap ruangan dalam rumah yang menghubungkan dunia luar. Selanjutnya, lingkungan fisik luar rumah yang mencakup halaman dan pekarangan pun harus diperhatikan kebersihan, kesehatan dan keindahannya agar menumbuhkan rasa aman, nyaman dan asri. Sekarang ini tidak sedikit keluarga yang rumahnya bagus tetapi halaman dan pekarangannya kotor/tidak terawat sehingga banyak tumbuh rumput dan tanaman liar. Belum lagi tidak sedikit diantara mereka yang tidak memiliki tempat pembuangan limbah yang memadai, sehingga lingkungan sekitar rumah menjadi becek, bau yang mengundang lalat dan serangga lain untuk hidup di situ sebagai sarang agen vector dan vehicle penyakit.

Sedangkan lingkungan non fisik keluarga yang mencakup hubungan internal dan eksternal keluarga serta hubungan keluarga dengan alam sekitar juga harus diperhatikan agar kualitas lingkungan keluarga secara keseluruhan meningkat. Hubungan internal keluarga yang berkualitas harus diwujudkan melalui upaya harmonisasi hubungan antara suami istri, orang tua dengan anak dan antar sesama anak. Upaya ini penting untuk menghindari perselisihan, pertengkaran dan saling tidak percaya yang berujung pada ketidaksetiaan, perselingkuhan dan konflik yang berkepanjangan sehingga menghilangkan rasa kasih sayang dan saling menghormati. Sementara hubungan eksternal keluarga harus dibangun melalui penciptaan hubungan yang akrab dengan tetangga, sering bersilaturahmi dan saling mengunjungi. Karena dari sana akan tumbuh rasa kebersamaan dan kegotongroyongan yang kuat, sehingga rasa solidaritasnya pun meningkat pula. Kita menyadari bahwa hanya dengan keluarga-keluarga yang memiliki kebersamaan, solidaritas dan kegotongroyongan yang kuat saja, masyarakat, bangsa dan negara dapat maju dan mandiri.

Akhirnya hubungan keluarga dengan alam sekitar yang harmonis dalam wujud upaya pelestarian lingkungan alam agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya, juga perlu dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan keluarga secara keseluruhan. Eksploitasi terhadap sumber-sumber daya alam yang melebihi potensi dan kemampuannya harus dihindari, karena hanya merusak kualitas lingkungan sekitar kita. Boleh saja sebuah keluarga memacu produktivitas hasil pertaniannya dengan pemberian pupuk, tetapi jangan berlebihan tanpa pengontrolan yang ketat karena hal itu disamping pemborosan juga akan merubah struktur tanah hingga menjadi kurang subur. Pembuangan limbah rumah tangga termasuk sampah padat harus dibuatkan tempat khusus agar tidak mencemari air tanah dan sumur yang airnya kita gunakan setiap saat.

Meningkatkan kualitas lingkungan keluarga, dengan demikian, membutuhkan perhatian berbagai pihak. Bukan hanya oleh anggota keluarga yang bersangkutan, tetapi juga pemerintah dan segenap komponen masyarakat. Untuk peningkatan kualitas fisik, peran Departemen Kesehatan, Pertanian, Pekerjaan Umum, dan Kantor Lingkungan Hidup, sangatlah mutlak. Sementara untuk peningkatan kualitas non fisik, peranan Departemen Agama, Pendidikan, BKKBN dan Pemberdayaan Perempuan, juga sama sekali tidak dapat di tinggalkan. Namun kesemuanya itu, agar hasilnya dapat optimal harus didukung oleh peran dan partisipasi tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi profesi, LSOM, bahkan oleh karang taruna maupun ibu-ibu kader PKK. Ini berarti, upaya meningkatkan kualitas lingkungan keluarga harus dilakukan secara terpadu antara keluarga sasaran, pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Karena bila tidak, hasilnya tidak akan pernah bisa sesuai harapan. Alih-alih sejahtera, mungkin kondisi yang lebih buruk yang akan kita dapatkan.