Menyorot Dinamika Kependudukan di Kulon Progo

Menyorot Dinamika Kependudukan di Kulon Progo

Oleh

Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Ada hal menarik yang disampaikan Dr. Sukamdi, M.Sc selaku nara sumber dalam Seminar Hasil Kajian Analisis Dampak Kependudukan yang diselenggarakan oleh Perwakilan BKKBN DIY kerjasama dengan Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dengan peserta dari unsur pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Tingkat DIY dan Kabupaten Kota di Imperial Ballroom The Rich Jogja Hotel, Kamis (31/10).

Hal menarik dimaksud adalah adanya dinamika kependudukan yang unik di Kulon Progo seiring dengan adanya pembangunan dan beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA). Dinyatakan oleh Sukamdi, bandara YIA berpotensi besar untuk menggerakkan migran ke Kulon Progo di masa sekarang dan yang akan datang. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukkan bahwa 5,56% penduduk Kulon Progo adalah migran risen atau migran yang 5 tahun sebelumnya tinggalnya tidak di Kulon Progo. Migran yang sebagian besar (85%) teridentifikasi berusia produktif tersebut lebih banyak berasal dari luar DIY (73,83%), baru disusul dari Kota Yogyakarta (12,27%), Sleman (5,9%), Bantul (4,43%) dan Gunungkidul (3,5%). Sementara itu, migrasi netto yang merupakan selisih dari migrasi masuk dan keluar menunjukkan nilai yang positif pada angka 10.081. Hal itu berarti bahwa jumlah migran yang masuk ke Kulon Progo lebih besar dari migran yang keluar.

Seiring dengan beroperasinya secara penuh bandara YIA dan efek perkembangan Kulon Progo yang makin maju di sektor perdagangan, industri, pariwisata, perumahan dan kerajinan, diperkirakan jumlah migran ke Kulon Progo akan terus membesar melebihi arus migran masuk ke kabupaten dan kota di sekitarnya. Bila ini terus terjadi, maka Kabupaten Kulon Progo yang dalam proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya tidak akan pernah mencapai bonus demografi, dengan cepat akan menikmati bonus tersebut yang ditandai dengan menurunnya angka ketergantungan hingga dibawah 50% sebagai akibat datangnya migran usia produktif. Bonus demografi ini tentu akan membuka peluang Kulon Progo untuk lebih cepat maju dan berkembang, mengejar ketertinggalan dengan kabupaten/kota lainnya di DIY .

Persoalannya, banyaknya migran yang masuk ke Kulon Progo selain akan mempercepat laju pertumbuhan penduduk yang berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 hanya 0,48% per tahun, diperkirakan juga akan memunculkan sejumlah permasalahan sebagai berikut:

Pertama, dari sisi ketenagakerjaan, banyaknya migran masuk yang didominasi penduduk usia produktif harus diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja agar tidak menjadi penyumbang kenaikan tingkat pengangguran. Apalagi sebagian dari migran yang masuk memang bertujuan untuk mencari pekerjaan, selain karena berkaitan dengan faktor keluarga seperti mengikuti suami/istri yang dipindahtugaskan atau pernikahan.

Kedua, teridentifikasi migran yang masuk ke Kulon Progo tidak merata ke seluruh kecamatan, tetapi lebih banyak mengarah ke beberapa kecamatan tertentu seperti Wates, Pengasih, Temon, Sentolo dan Panjatan. Hal ini tentu akan mempengaruhi distribusi dan konsentrasi penduduk di Kulon Progo baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Bukan tidak mungkin, akan terjadi penumpukan migran di wilayah tertentu yang berakibat pada timpangnya distribusi penduduk.

Ketiga, dari sisi sosial, peningkatan migran yang masuk juga akan menyebabkan permasalahan yang terkait dengan “dispute” antara migran dan non migran. Dispute tersebut berpeluang semakin besar bila dikaitkan dengan ekonomi. Secara sederhana, dispute diartikan sebagai konflik atau pertentangan antara penduduk lama dengan penduduk baru karena berbagai alasan. Selain faktor ekonomi, juga faktor sosial budaya, tradisi, kebiasaan, gaya hidup dan lain-lain.

Menghadapi dinamika kependudukan terutama dalam rangka mengatisipasi migran masuk, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo perlu menyiapkan langkah strategis, diantaranya meningkatkan kesempatan kerja melalui peningkatan kualitas angkatan kerja yang berdaya saing dengan cara revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) yang lebih adaptif terhadap pasar serta menguatkan fungsi keluarga untuk menciptakan remaja sebagai angkatan kerja yang kreatif, inovatif dan produktif dengan kepribadian unggul. Selain itu mengembangkan jaringan dan kerjasama untuk peningkatan ekonomi lokal dengan cara mengembangkan kerjasama lintas sektoral untuk penguatan kapasitas penduduk, mengembangkan bisnis yang terintegrasi dengan produk/ekonomi lokal serta mengupayakan pemanfaatan bandara untuk peningkatan ekonomi lokal.

Akan lebih afdol, bila ke depan Pemda Kulon Progo menjadikan kebijakan migrasi sebagai bagian integral dari kebijakan pembangunan jangka menengah maupun jangka Panjang, menyiapkan regulasi yang mengatur tentang pengarahan mobilitas penduduk agar tidak terjadi ketimpangan distribusi penduduk serta menetapkan kebijakan mitigasi konflik untuk meminimalisir terjadinya konflik antara migran dan non migran.