KIE Program KKBPK Melalui Lagu, Mengapa Tidak?

KIE Program KKBPK Melalui Lagu, Pengapa Tidak?

Oleh: Drs, Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Harus kita akui, selama ini lagu lebih banyak difungsikan masyarakat sebagai sarana hiburan untuk membuat hati senang atau mengurangi stress. Meskipun ada juga yang memfungsikan untuk penyembuhan. Konon, menurut jurnal medis di Italia, lagu selain dapat menekan rasa sakit yang kronis, juga dapat untuk mengurangi denyut jantung dan tekanan darah yang artinya meminimalisir resiko stroke. Selain itu, ada yang memfungsikan untuk menstimulasi sel otak, meningkatkan performa dalam olah raga, dan membuat tidur lebih nyenyak serta meningkatkan optimisme. Namun dari semua itu, fungsi lagu belumlah lengkap bila belum dimanfaatkan untuk hal yang lebih jauh, yakni sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) atau sederhananya sebagai media penyampai pesan atau penyuluhan.

Pertanyaannya, dapatkah lagu digunakan sebagai media KIE program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK)? Terkait dengan pertanyaan tersebut, penulis dengan tegas menjawab ya. Karena di dalam sebuah lagu pasti ada liriknya, dan lirik itu bisa diisi dengan pesan-pesan sesuai keinginan penulisnya, siapa pun orangnya. Pesan-pesan tersebut akan dapat merasuk pada jiwa seseorang dan mempengaruhi tutur kata, sikap dan perilaku yang bersangkutan, manakala lagu tersebut sangat disukai atau digandrungi. Sehingga ada yang mengatakan, isi sebuah lagu bisa jadi menjadi sebuah “doktrin” bagi seseorang yang dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, apabila lirik dalam lagu tersebut berisi pesan-pesan tentang program KKBPK yang dikemas secara menarik, dipastikan ini menjadi media KIE yang efektif sekaligus efisien. Efektif, karena sekali sebuah lagu yang mendukung program KKBPK diciptakan, masyarakat atau kelompok sasaran akan mengulang-ulang sendiri lagu tersebut hingga hafal sekaligus meresapi dan menjiwai. Efisien, karena KIE melalui media lagu hemat waktu, tenaga dan biaya serta praktis mengingat lagu dapat diputar kapan saya, oleh siapa saja dan di mana saja. Apalagi sekarang ini teknologi internet telah berkembang pesat yang memungkinkan lagu dapat disebarluaskan melalui YouTube atau jejaring sosial lainnya dan dapat diakses oleh siapapun cukup hanya dengan smartphone yang saat ini dimiliki oleh sebagian besar anggota masyarakat kita.

Program KKBPK yang setidaknya menangani lima aspek garapan, mulai dari Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga, Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, hingga Pengelolaan Kependudukan, substansi isinya dapat dikemas dalam bentuk lagu. Tentu saja setelah melalui pemilihan kata-kata dan istilah yang pas sehingga mendapatkan lirik yang baik, pesan yang jelas dan mudh dipahami.

Lagu yang berjudul “Rabine Diundur Wae” dan “Generasi Berencana” karya penulis adalah salah satu contoh dari pesan PUP yang dikemas dalam bentuk lagu. Begitu pula dengan lagu “ KB Pancen Nyoto” karya penulis yang diproduksi oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY Tahun 2015 menjadi contoh lagu dengan substansi pesan Pengaturan Kelahiran. Lagu “Wis Tekan Jamane” dan “Aja Lena” contoh untuk pesan Pembinaan Ketahanan Keluarga serta lagu “Ayo Dho Usaha” dan “Ayo Kerja” untuk pesan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga melalui kegiatan ekonomi produktif. Sedangkan lagu “Donyane Wis Kebak” menjadi contoh lagu yang mengangkat pesan tentag Pengelolaan Kependudukan.

Belakangan, penulis membuat lagu yang berjudul “Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga” yang kemudian diakronimkan menjadi “Kuhias Kenanganku” adalah contoh lagu yang merangkum semua pesan program KKBPK. Lagu yang dilaunching oleh Bupati Kulon Progo (sekarang Kepala BKKBN) di Lapangan Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, DIY pada saat Hari Jadi Desa Salamrejo yang ke-84, 31 Juli 2017 lalu, belakangan selain telah digunakan oleh masyarakat di luar Kulon Progo, juga telah dijadikan sebagai iringan musik “Senam Kuhias Kenanganku” oleh sebagian masyarakat Kulon Progo sehingga pesan-pesannya semakin sering didengar dan diingat.

Saat ini telah ada 20 lagu yang penulis ciptakan dengan rincian 18 lagu telah ada videoklipnya dan 2 lagu baru dalam bentuk MP3 (videoklip dalam proses). Semua lagu yang telah ada videoklipnya dengan mudah dapat diakses melalui Google atau YouTube. Cukup dengan mengetik “Drs. Mardiya” pada kolom search, maka lagu-lagu yang dimaksud akan muncul di halaman pertama. Lagu KB Pancen Nyoto saat ini telah digunakan oleh Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung dan Kabupaten/Kota Provinsi Bengkulu. Juga lagu Generasi Berencana, yang videoklipnya diformat oleh Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Provinsi Bengkulu dengan pesan-pesan program KKBPK.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, pemutaran lagu terutama yang ada videoklipnya, mampu menciptakan suasana segar saat dilakukan pertemuan penyuluhan program KKBPK. Masyarakat sasaran terlihat lebih bersemangat, bergairah dan siap untuk menerima materi penyuluhan yang disampaikan Penyuluh KB atau kader KB lainnya. Penyuluhan pun berjalan lebih lancar dari biasanya, karena masyarakat merasa santai dan tidak tegng. Hasil akhirnya, masyarakat lebih mudah menerima pesan yang dibungkus dengan kesederhanaan sekaligus siap melaksanakan apa yang menjadi harapan pemerintah sesuai dengan porsinya. Dengan demikian, KIE program KKBPK melalui lagu, mengapa tidak?