Tantangan Penyuluhan KB di Era 4.0

Tantangan Penyuluhan KB di Era 4.0

Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Disadari atau tidak, kunci keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) di masa lalu hingga saat ini terletak pada kekuatan Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) nya. Kuatnya advokasi dan KIE atau penyuluhan KB selain mampu menggemakan program, juga mampu menyadarkan masyarakat untuk berperan menyukseskannya dengan menjadi akseptor KB atau aktif dalam kegiatan pendukung lainnya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan dimasukinya era Revolusi Industri 4.0, penyuluhan KB menghadapi tantangan baru. Bukan saja pelaku penyuluhan KB harus mampu melakukan advokasi dan KIE dengan berbasis data dan informasi yang akurat, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini. Pelaku penyuluhan yang dimaksud adalah Pengelola Program KB baik Pusat maupun Daerah, Penyuluh KB, Pembantu Pembina KB Desa, atau kader KB lainnya termasuk stageholder terkait.

Penyuluhan KB dengan tujuan untuk memperoleh dukungan masyarakat luas hingga berkontribusi dalam upaya Pendewasaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga, Peningkatan Kesejahteraan Keluarga dan Pengelolaan Kependudukan, saat ini harus disampaikan dengan merujuk pada permasalahan yang terjadi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri yang disertai dengan data atau bukti-bukti yang autentik dan valid. Data tersebut bisa bersumber dari hasil Pendataan Keluarga (PK) yang dilakukan kader KB atau sumber lain yang dapat dipercaya. Misalnya data registrasi rutin yang dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, atau data Sensus Penduduk, SDKI, Susenas, dll yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Menjadi tidak elok bila saat ini, para penyuluh memberikan penyuluhan KB hanya mendasarkan pada pengertian atau pengetahuan dasar umum saja karena saat ini masyarakat sudah cerdas. Masyarakat tidak akan percaya begitu saja bahwa program KB itu penting tanpa melihat realita di lingkungannya bahwa mereka yang tidak KB upaya mencapai kesejahteraan keluarganya terhambat. Para Penyuluh harus mampu menunjukkan bahwa program KB menjadi pembeda yang nyata bahwa yang ikut KB hidupnya lebih bahagia sejahtera dan yang tidak ikut KB kurang bahagia atau sejahtera.

Di sinilah perlunya para pelaku penyuluhan KB harus mengenal lebih dahulu karakteristik dan permasalahan yang terjadi di masyarakat yang disuluh. Bila perlu, data permasalahan yang dimiliki hingga pada tingkat keluarga yang mencakup 8 fungsi keluarga. Dengan demikian, penyuluhan KB akan menjadi forum yang menarik untuk bertanya dan diskusi bagi masyarakat. Bila para penyuluh mampu menjadi fasilitator dan informator yang handal, maka masyarakat akan memiliki kesadaran dan kepedulian yang lebih untuk mendukung program KB.

Yang juga tidak boleh dilupakan dalam penyuluhan KB di era Revolusi Industri 4.0 adalah penggunaan Teknologi Informasi (TI). Para penyuluh dapat memanfaatkan berita viral di radio, televisi atau media sosial untuk menguatkan penyuluhan KB yang dilakukannya. Penyuluhan akan lebih menarik, tajam dan membekas di benak masyarakat, bila dilengkapi dengan gambar atau video yang ditampilkan lewat LCD Projector. Tentu saja dengan memilah dan memilih materi yang sesuai dengan tema dan tujuan dari penyuluhan itu sendiri. Hal ini bisa didapatkan dengan mencari di internet/google atau di YouTube. Bila mampu membuat sendiri, tentu ini akan menjadi lebih baik.

Masyarakat sekarang ini sudah bosan dengan model penyuluhan KB yang itu-itu saja. Ceramah dan tanya jawab yang memberi kesan bahwa para penyuluh cenderung menggurui dan menganggap masyarakat tidak tahu apa-apa. Meskipun ceramah tetap diperlukan, tetapi harus dikemas secara lebih menarik (misal dalam bentuk talkshow) yang didukung oleh pemanfaatan teknologi informasi yang optimal.

Dengan pemanfaatan teknologi informasi ini, ke depan, penyuluhan KB tidak harus dilakukan dilakukan dengan tatap muka. Penyuluh KB dapat memberikan penyuluhan lewat media sosial yang disesuaikan dengan kebutuhan. Semisal, penyuluhan KB yang ditujukan pada ibu-ibu muda yang masih PUS, dapat menggunakan media handphone untuk telepon, mengirim Short Message Service (SMS) atau WhatsApp (WA) yang disertai dengan gambar atau video yang sesuai. Atau materi penyuluhan dapat dikirim lewat media sosial lainnya seperti facebook, twitter, Instagram, skype, path, BBM, bee talk, me2day, BBM, tumblr, yahoo.com, dll. Namun penggunaan media ini harus lebih hati-hati dalam memilih materi karena sasaran yang sangat luas dan beragam serta berpotensi memicu perdebatan yang tidak perlu.

 

sumber foto : https://www.antarafoto.com/peristiwa/v1234600518/kb