Jejak dr. Hasto di Bidang KB

Artikel: 

Jejak dr. Hasto di Bidang KB

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

Dipilihnya dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo menjadi berita viral di media cetak maupun elektronik saat ini. Bahkan di Media Sosial pun juga ramai membicarakannya. Tulisan ini memberikan tambahan informasi  tentang rekam jejak apa yang telah dilakukan oleh dr. Hasto di Bidang Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Kulon Progo yang sekarang programnya telah menjadi program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

 

Pengalaman saya sebagai Penyuluh KB sejak tahun 1993, Ka Sub Bid Advokasi dan Pembinaan KB sejak tahun 2009 hingga menjadi Ka Bidang Pengendalian Penduduk pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Kulon Progo sejak tahun 2017 sampai saat ini, menempatkan Bupati Kulon Progo ini memiliki jasa yang sangat besar di bidang KB. Bukan saja karena gigihnya memotivasi masyarakat untuk sadar dan peduli terhadap program KB sehingga ikut berperan aktif menyukseskannya, tetapi juga kecerdasannya melahirkan berbagai inovasi di bidang KB yang membawa dampak positif di masyarakat dan prestasi yang dihasilkannya.

 

Inovasi pertama yang dilahirkan oleh Bupati asli warga Kulon Progo, kelahiran  30 juli 1964 ini adalah pemberian reward kambing (senilai Rp. 1 Juta)  bagi para peserta KB MOP/Vasektomi pada tahun 2012. Inovasi ini telah mendongkrak capaian kesertaan KB  Baru MOP/Vasektomi dari belasan  akseptor pada tahun 2011  hingga mencapai puluhan pada tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2011 capaiannya  hanya 13 akseptor, meningkat menjadi 36 akseptor di tahun 2012, meningkat lagi menjdi 100 akseptor di tahun 2013,  dan 80 akseptor di tahun 2014.

 

Inovasi kedua adalah pembentukan Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB). KAKB ini dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin dan miskin absolut di Kulon Progo melalui kegiatan ekonomi produktif dengan komposisi keanggotaan setiap kelompoknya  terdiri dari 6 Keluarga Pra Sejahtera, 4 Keluarga Sejahtera dan 1 Keluarga Miskin Absolut.  KAKB pertama kali dibentuk pada tahun 2013 dan hingga saat ini telah terbentuk 241 KAKB dengan jumlah anggota tidak kurang dari 2,651 keluarga. KAKB ini telah mampu memberdayakan 2.526 keluarga Pra Sejahtera melalui usaha ekonomi produktif, jasa maupun warung KAKB dan membantu 241 Keluarga Miskin Absolut.

 

Inovasi ketiga berupa pengembangan Strategi KIE KKBPK Berbasis Komunitas yang dikuatkan dengan Peraturan Bupati Kulon Progo No 18 Tahun 2016. Dengan strategi ini, kelompok komunitas seperti Kelompok Tukang Becak, Kelompok Tani/Kelompok Wanita Tani, Kelompok Pengrajin, dan Kelompok Seni (Karawitan, Jathilan, Kethoprak, dll) lebih banyak mendapatkan akses KIE KB melalui pertemuan rutin yang diselenggarakan oleh kelompok komunitas tersebut. Hingga saat ini tercatat tidak kurang dari 41 kelompok komunitas di 12 kecamatan yang mendapat KIE program KB oleh Penyuluh KB maupun Tim KIE KB Tingkat Kecamatan/Tingkat Kabupaten.

 

Inovasi keempat yang dilakukan oleh dr. Hasto adalah melakukan Gerakan Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (Kuhias Kenanganku) pada masyarakat luas dalam bentuk 10 butir perilaku yang mencakup 5 aspek, yakni Pendewasaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga, Peningkatan Kesejahteraan Keluarga dan Kependudukan. Dalam rangka penguatan gerakan yang dimulai tahun 2017 ini telah dibuat pilot project di Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, dan dilakukan lomba antar pedukuhan pada tahun 2018. Juga telah dicetak buku panduan bagi seluruh kader KB di 88 desa/kelurahan, 935 Pedukuhan dan 4.480 RT.

 

Inovasi kelima berupa penguatan ketahanan keluarga melalui Pengembangan Klinik Ketahanan Keluarga untuk membantu keluarga dalam menerapkan/mngimplementasikan fungsi-fungsi keluarga (8 fungsi) serta menekan kasus percerasaian, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan terhadap Perempuan dan Kekerasan terhadap Anak. Pilot project untuk kegiatan yang dikembangkan mulai tahun 2018 ini adalah Desa Sogan, Kecamatan Wates. Pada tahun 2019 Klinik Ketahanan Keluarga juga dikembangkan di Desa Tirtorahayu, Kecamatan Galur, Desa Depok, Kecamatan Panjatan, Desa Giripurwo, Kecamatan Girimulyo, dan Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh.

 

Selain kelima inovasi tersebut, sebenarnya masih banyak inovasi lain dr. Hasto dalam pengembangan Program KB di Kulon Progo. Di antaranya, mempermudah akses pelayanan KB, melakukan lomba perolehan akseptor KB terbanyak  bagi Puskesmas, Penyuluh KB dan Motivator KB Pria, memadukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan Program KB, menggerakkan KB Pasca Salin, dan sebagainya.

 

Hingga saat ini dr. Hasto Wardoyo sebagai pribadi maupun Bupati Kulon Progo telah mengantongi 80 piagam penghargaan sebagai wujud prestasinya dan tiga diantaranya adalah penghargaan di Bidang KB, yakni Wira Karya Kencana dari Kepala BKKBN pada tahun 2010, Manggala Karya Kencana dari Kepala BKKBN pada tahun 2014 dan Satyalencana Pembangunan di Bidang KKBPK pada tahun 2019 ini.

 

Dalam rangka memperkuat dan mempertahankan capaian di bidang KKBPK, dr. Hasto yang melontarkan program “Bela Beli Kulon Progo” ini telah menerbitkan Perbub No 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak, Perbub No 53 Tahun 2018 tentang Grand Design Pembangunan Kependudukan Kabupaten Kulon Progo Tahun 2018 – 2035. Di tahun 2019 ini bersama DPRD merancang Perda tentang Pembangunan Keluarga yang akan dibahas melalui Anggaran Perubahan tahun ini.