Akseptor KB Pahlawan Pembangunan

Persoalan jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhannya yang tinggi di Indonesia menjadi persoalan serius bagi pemerintah maupun masyarakat. Bagi pemerintah, kondisi itu membawa konsekuensi pada besarnya anggaran untuk penyediaan sarana prasarana peningkatan kesejahteraan penduduk mulai dari pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, sarana transportasi hingga tempat rekreasi dan hiburan. Ini belum termasuk kebutuhan sekunder lainnya. Sementara bagi masyarakat, jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhannya yang tinggi, membawa dampak langsung yang dapat dirasakan berupa sulitnya mencukupi kebutuhan sehari-hari, sulitnya mencari pekerjaan denga penghasilan yang layak serta terjadinya kemacetan di mana-mana. Belum lagi masalah kerawanan sosial akibat banyaknya penganggur dan kemiskinan. Oleh karena itu, Pasangan Usia Subur (PUS) yang secara ikhlas dan bertanggung jawab menjadiakseptor KB lestari terutama yang menggunakan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKJP) seperti IUD, MOW, MOP dan Implant, maka secara langsung maupun tidak langsung adalah pahlawan pembangunan.

Demikian dikatakan Ka Sub Bidang Advokasi Konseling dan Pembinaan KB dan Kesehatan Reproduksi BPMPDPKB Kabupaten Kulon Progo, Drs. Mardiya, saat ditemui di kantornya, Jalan Sugiman Wates, Selasa (27/12). Ditambahkan oleh Mardiya, yang dimaksud dengan pahlawan pembangunan di era kemerdekaan ini bukanlah orang yang siap berjihad dan memanggul senjata seperti jaman dahulu pada saat merebut kemerdekaan, tetapi mereka yang secara langsung maupun tidak langsung turut serta menjalankan roda-roda pembangunan demi terwujudnya cita-cita nasional, yakni tercapainya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Menurut Mardiya, para akseptor KB juga merupakan pribadi-pribadi yang arif dan bijaksana. Kearifan dan kebijaksanaan ini berawal dari kesadaran mereka untuk membangun keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera dalam rangka ikut berpartisipasi menekan laju pertumbuhan penduduk sehingga terjadi keseimbangan antara ketersediaan sumber daya alam dengan jumlah penduduk, juga dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Dengan cukup dua anak saja untuk sebuah keluarga, maka jumlah penduduk di Indonesia akan dapat dikendalikan serta tidak akan terjadi ledakan penduduk yang dapat menyedot hasil-hasil pembangunan. Dengan demikian, tidaklah terlalu salah jika kita menyebut akseptor KB juga menjadi bagian dari para pahlawan pembangunan yang akan menciptakan negeri ini menjadi lebih makmur, maju, dan mandiri.