Isu Kependudukan dan KB

Isu Kependudukan dan Keluarga Berencana

Oleh: Drs.Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Masalah kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia kian hari bukan semakin sederhana namun justru semakin rumit. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) juga  mengamini, bahwa permasalahan kependudukan dan KB di negara kita sudah sedemikian kompleks dan telah menjadi isu nasional yang harus  dicarikan solusinya. Berikut ini 6 (enam) isu kependudukan dan KB yang dimaksud: Pertama,  Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).  Sekitar 30 persen SDM yang ada di Indonesia memiliki kualitas di bawah standar. Ketidaksiapan pasangan saat menikah menimbulkan banyak risiko kesehatan terhadap ibu dan bayi yang dilahirkan. Ketidaksiapan ini menurunkan kemampuan pasangan muda untuk menghasilkan generasi baru yang berkualitas.

Kedua, Menikah Usia Muda. Satu dari sembilan anak perempuan berusia 20-24 tahun sudah menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Saat ini, ada 1,2 juta kasus perkawinan anak yang menempatkan Indonesia di urutan ke-8 di dunia dari segi angka perkawinan anak secara global. Banyak di antara mereka tidak paham tentang masalah bagaimana mengatur jarak aman kelahiran agar anak bisa lahir dengan sehat dan tidak stunting (gagal tumbuh)..

Ketiga, Melahirkan Usia Muda.  Setiap tahunnya, banyak sekali bayi yang dilahirkan oleh orang-orang yang masih berusia sekitar 15 hingga 19 tahun. Jumlahnya mencapai setengah juta orang. Bayi-bayi yang lahir dari ibu yang masih sangat muda itu berpotensi lahir dengan ukuran di bawah standar sekitar 10 persen dan prematur (sebelum waktunya) mencapai 20 persen. Sementara, kita semua telah memahami bahwa perempuan sebaiknya jangan menikah di bawah usia 21 tahun adalah karena organ reproduksi belum siap, bisa menyebabkan hamil tak sehat, mengalami pendarahan, serta kanker mulut rahim setelah berhubungan.

Keempat, Minim Pengetahuan dan Edukasi Tumbuh Kembang Anak. Hingga saat ini kesadaran untuk mempersiapkan 1.000 hari pertama kehidupan bayi belum sesuai harapan. Sementara, kecukupan asupan nutrisi dan gizi pada rentang usia tersebut menjadi kunci agar bayi yang dilahirkan menjadi generasi baru yang unggul dan berkualitas. Anak yang tidak cukup mendapatkan asupan gizi dan nutrisi bisa mengalami gizi buruk dan memicu stunting.  

Kelima, Kurangnya Perencanaan Keluarga. Remaja saat ini perlu diajak memahami pentingnya lima tahapan kehidupan yakni, melaksanakan pola hidup sehat dengan makan-makanan bergizi, meraih cita-cita melalui pendidikan yang baik, memiliki karir atau pekerjaan baik laki-laki maupun perempuan, menjadi anggota masyarakat, dan berkeluarga. Ini menjadi jalan mempersiapkan remaja agar siap menjadi orangtua pada waktunya. Ada delapan fungsi keluarga yang semuanya dapat tercakup ke dalam prinsip asah, asih, dan asuh demi mewujudkan ketahanan keluarga. Keluarga harus asah, yakni, mengasah kemampuan sosialisasi, menerapkan nilai agama dan juga kepekaan lingkungan; asih yakni fungsi cinta kasih dan reproduksi; asuh yakni fungsi ekonomi dan perlindungan. Sehingga dapat menciptakan keluarga berkualitas dengan ukuran tiga dimensi  yakni tenteram, mandiri dan bahagia.

 Keenam, Ledakan Kelahiran Pasca Pandemi. Dengan laju pertumbuhan 1,25% saat ini, penduduk bertambah 3,2  juta orang setiap tahun. Pertambahan jumlah penduduk itu sebanyak satu negara Singapura. Salah satu cara meredamnya ialah dengan menggelorakan kembali program Bangga Kencana. Di mana-mana perlu dibangun Kampung KB. Namun program Bangga Kencana terancam gagal selama masa pandemi Covid-19. Diketahui, ada 17,5 persen  angka kehamilan yang belum atau tidak dikehendaki jika dibandingkan dengan kondidi sebelum pandemi. Untuk itu, patut diantisipasi adanya ledakan kelahiran anak yang bisa membuat penambahan jumlah penduduk Indonesia sembilan bulan mendatang melebihi 3,2 juta jiwa.