Hemat Air Untuk Bumi Lestari

Hemat Air Untuk Bumi lestari

Oleh Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Jumlah penduduk bumi yang kita tempati dari waktu ke waktu terus bertambah. Bila di tahun 1960 angkanya masih dalam kisaran 3,5 milyar jiwa,  saat ini telah mencapai 7,7 milyar jiwa. Diperkirakan pada tahun 2030 jumlah penduduk bumi akan menjadi 8,5 milyar jiwa dan pada tahun 2050 akan bertambah lagi menjadi 9,7 milyar jiwa.

Pertambahan penduduk bumi yang pesat secara langsung maupun tidak langsung  akan mempengaruhi persediaan air bersih di planet bumi. Kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari menjadi semakin besar manakala penduduk bumi terus bertambah. Dan ini jelas-jelas akan menyedot persediaan air bersih di bumi tanpa henti dari waktu ke waktu. Oleh karena itu wajar bila Forum Air Dunia (World Water Forum) memprediksi akan terjadi krisis air bersih di bumi dalam beberapa waktu mendatang. Forum ini juga memprediksi bahwa pada tahun 2025 akan banyak penduduk dunia lebih sulit mendapatkan air bersih. Apalagi pencemaran terhadap air oleh limbah industri maupun limbah rumah tangga terus terjadi.

Dengan melihat kenyataan di atas, memang sudah saatnya kita harus membiasakan diri untuk hemat air, agar di bumi kita tercinta ini tidak terjadi krisis air bersih. Kita harus berupaya untuk menggunakan air bersih dalam skala rumah tangga seefektif dan efisien mungkin sehingga krisis air bersih di masa mendatang dapat kita kurangi. Cara yang dapat ditempuh antara lain: Pertama, mematikan air disaat tidak diperlukan. Contoh sederhananya, disaat kita gosok gigi, mencuci tangan, piring atau pakaian sering kita membiarkan air keran mengalir tanpa fungsi. Kebiasaan ini harus dihentikan, karena  itu pemborosan.

Kedua, menyiram tanaman pada pagi atau sore hari. Lebih baik kita menyiram tanaman di pagi hari atau sore dari pada di tengah hari atau siang hari, karena penguapan air yang lebih banyak (pemborosan) dapat dicegah. Menyiram tanaman di pagi hari adalah waktu terbaik, karena sangat cocok dengan siklus pertumbuhan alami tanaman dan tidak harus menggunakan banyak air. Alasannya, tanaman sangat siap untuk mengkonsumsi air di awal pagi ketika matahari sudah terbit tapi belum terlalu tinggi.

Ketiga, menjadi vegetarian sekali dalam sepekan. Dengan menjadi vegetarian, secara langsung maupun tidak langsung kita telah membuat langkah untuk menghemat air. Alasannya sangat rasional.  Menurut para ahli, membutuhkan banyak air untuk menumbuhkan biji-bijian untuk memberi makan sapi yang pada akhirnya menghasilkan daging burger. Steak enam ons memiliki jejak air 674 galon, sementara dampak air salad lebih dari 21 galon. Seorang ahli lingkungan pada 2017 menemukan bahwa pola makan omnivora memiliki jejak air (dan jejak karbon) terbesar dibandingkan dengan pola makan vegetarian dan vegan. Menukar hanya satu hidangan daging-sentris setiap minggu dengan pilihan vegetarian dapat menghemat lebih dari 3.000 galon air. Jadi, tak ada salahnya Anda menjadi vegetarian sekali saja dalam sepekan atau mungkin bisa lebih.

Dengan menghemat air, kita sebenarnya telah memberikan sumbangan sangat besar untuk menyelamatkan bumi agar tetap lestari, yang akan menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri.