Persiapan Berkeluarga

Persiapan Berkeluarga

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

Kehidupan berkeluarga atau menempuh kehidupan perkawinan adalah merupakan harapan dan niat yang wajar dan sehat dari setiap anak-anak muda dan remaja dalam masa perkembangan dan pertumbuhannya. Harapan tersebut terasa makin menyala dan dorongannya semakin kuat bila secara fisik mereka dalam kondisi sehat dan telah memiliki hal-hal lain yang mendukung kehidupan jika kelak telah berkeluarga, seperti telah memiliki pekerjaan yang tetap, telah memiliki calon yang diidamkan dan sebagainya.

Memang, dalam perkawinan, seorang pria dan wanita akan saling mengikat diri atas dasar cinta kasih yang total : psikologis,  biologis, sosial ekonomis, demi penyempurnaan dan perkembangan pribadi masing-masing serta demi kelangsungan sejarah umat manusia. Ini tercermin dari hakekat perkawinan itu sendiri. Karena perkawinan adalah persekutun hidup antara seorang pria dan seorang wanita atas dasar ikatan cinta kasih yang tulus dengan persetujuan bebas dari keluarga  yang tidak dapat ditarik kembali dengan tujuan : kelangsungan bangsa. perkembangan pribadi, kesejahteraan keluarga

Oleh karena itu wajar jika Undang-Undang Perkawinan No 16 Tahun 2019  Pasal 1 memandang bahwa perkawinan adalah sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhana Yang Maha Esa.

Persiapan dalam berkeluarga, apabila kita cermati dengan teliti, paling tidak harus mencakup 5 aspek. Yakni persiapan fisik-biologis, persiapan mental psikologi, sosial ekonomi, persiapan pendidikan dan ketrampilan, serta persiapan keyakinan atau agama.

  1. Persiapan fisik-biologis

Persiapan fisik-biologis sangat diperlukan untuk membangun keluarga yang sejahtera. Sebab untuk mencapai keluarga yang sejahtramcalon sauami dan isteri harus dalam kondisi yang sehat dan siap untuk menjalankan tugas-tugas yang membengkak ketiak sudah berkeluarga, termasuk dalam menjalankan fungsi reproduksi (melanjutkan keturunan) keluarga.

Selain dengan memperhatikan aspek umur dalam perkawinan, dimana diseyogyakan 25 tahun ke atas untuk pria dan minimal 20 tahun untuk wanita, persiapan fisik-biologis harus pula meliputi pemeliharaan kondisi kesehatan baik untuk calon suami maupun calon isteri. Mereka harus terbebas dari segala macam penyakit yang membahayakan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga di kemudian hari. Calon suami hendaknya terbebas dari penyakit-penyakit kronis (jantung, paru-paru, gangguan fungsi reproduksi, dan sebagainya) serta menghindari berbagai kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatannya di kemudian hari kelak ketiak sudah berkeluarga. Sedapat mungkin, pria harus terbebas dari kebiasaanmerokok, minum-minuman keras, makan-makanan yang terlalu banyak mengandung lemak, main perempuan (karena dapat tertular PMS atau HIV/AIDS), serta kebiasaan buruk lainya seperti berjudi penyalahgunaan narkotika, begadang semalaman, onani, masturbasi dan sebagainya. Sebaliknya pria sebagai calon suami hendaknya sejak awal harus memelihara kondisi fisiknya sebaik mungkin dengan banyak berolah raga, makan-makanan yang bergizi (namun jangan sampai terjadi kelebihan gizi – gizi seimbang), dan cukup istirahat.

Sementara itu, bagi wanita sebagai calon isteri, harus menjaga kesehatannya terutama yang berkait dengan fungsi organ-organ reproduksiny disamping menjaga kesehatan secara umum. Perlu diketahui bahwa wanita, dalam hal ini cukup rentan terhadap berbagai penyakit. Kebiasaan yang buruk pada masa remaja, seperti minum-minuman keras, merokok, penggunaan pil setan, shabu-shabu, inex atau obat yang berlebihan, bagaimanapun jgua akanmempengaruhi fungsi reproduksinya di kemudian hari. Karena itu, sangat disarankan bagi wanita sebagai calon isteri, untuk memelihara kesehatan tubuhnya sebaik  mungkin. Karena di samping dapat mempercantik dan memperintah tubuh, badan sehat akan lebih memudahkan bagi wanita untuk tumbuh subur dan mampu untuk hamil dan melahirkan dengan selamat.

Apabila sejak awal telah diketahui bahwa ia menderita penyakit tertentu yang dapat membahayakan kebahagiaan keluarga di kemudian hari (jantung, gangguan pernafasan, kaner payudara, kanker rahim, dsb), hendaklah disembuhkan sedini mungkin. Begitu pula apabila seorang wanita menyadari kondisi tubuhnya kurang ideal untuk hamil dan melahirkan (tinggi badan tidak normal/terlalu pndek, tulang pinggul terlalu kecil, badan terlalu kurus, dsb), hendaklah banyak berolah raga, senam, renang dan lain-lain untuk lebih melemaskan otot-otot tubuh dan tulang serta organ-organ reproduksinya sehingga kelak tidak mengalami hambatan yang berarti ketika harus hamil dan melahirkan.

  1. Persiapan mental psikologi

Persiapan ini sangat diperlukan untuk membangun keluarga dengan ketahanan yang tinggi. Ini dapat dimengerti karena dengan kondisi kebutuhan modern seperti sekarang ini, dibutuhkan persiapan mental yang kuatuntuk mampu mengadapinya.

Persiapan mental psikologi akan banyak mengurangi kemungkinan menjadi retak / pecah, ketika keluarga baru menghadapi cobaan atau hambatan dalam keluarga. Baik yang mengkait dengan aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, maupun latar belakang keluarga.

Kehidupan modern memang banyak menawarkan kemungkinan dan peluang. Hampir semua bentuk kehidupan dan perilaku yang baik dan buruk telah ada pada saat ini. Bila kondisi kita miskin, kita akan tersiksa karena hasrat dan keinginan kita untuk memiliki sesuatu tak akan pernah tercapai. Kita akan banyak diiming-imingi oleh barang-barang mewah dan makanan yang enak-enak, tanpa mampu untuk membelinya. Mungkin kita hanya akan mampu menelan air liur ketika dalam kondisi lapar dan dahaga melewati halaman rumah makan yang menyajikan berbagai macam makanan dan minuman yang enak-enak. Kita juga ludah, apabila tetangga memasak makanan yang baunya tersebar kemana-mana, sementara kita juga akan merasa minder, risih dan takut bergaul dengan orang-orang yang berpakaian bagus-bagus, punya motor, mobil atau rumah yang mewah. Kita menjadi tidak percaya diri lagi ketiak harus berkenalan, bertetangga, atau berbicara dengan mereka. Kita seperti tidak ada harganya, lebih-lebih jika mereka yang kita hadapi adalah orang-orang yang sombong, tak tahu diri, dan tidak mau mengerti kondisi kita. Sehingga jika mental kita tidak kuat, akan timbul rasa putus asa pada kita, menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Mungkin sekali bila tidak didukung oleh kedewasaan berfikir yang baik dan keimanan yang kuat, kit akan terjerumus pada kondisi yang nista. Keluarga bentrok terus, sering mengucapkan kata-kata kotor/caci maki,maupun perbuatan-perbuatan haram lainnya seperti mencuri, merampok, memperkosa, atau bahkan membunuh. Kitapun akan menjadi orang pendendam dan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Bila ada pengendalian diri yang dapat mengekang kita melakukan perbuatan maksimat, kita akan menjadi orang yang paling hina di masyarakat, dan keluarga kita akan dianggap sebagai sampah yang mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat.

Sebaliknya bila kondisi kita kaya dan hidup berkecukupan, bukan berarti ketahanan keluarga kita secara otomatis akan meningkat dan kondisi keluarga kita anak aman-aman saja. Berbagai godaan akan selalu muncul yang dapat memicu keluarga untuk tidak harmonis lagi.

Bagi pria/suami, kekayaan yang melimpah sering membuatnya lupa diri. Kupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai suami. Lupa akan janji kesetiaan pada isterinya, serta lup akan norma-norma yang tak boleh ia langgar. Kekayaan akan sering membuat pria menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan hatinya. Secara sadar maupun tidak sadar, seorang pria yang mestinya bertanggung jawb terhadap kebahagiaan terhadap isteri dan anak-anaknya, akan mulai senang keluyuran. Kalau hanya sekedar refresing, tentu boleh-boleh saja. Asalkan tidak terlalu keseringan. Namun karena biasanya ata ajakan teman atau dipengaruhi sahabat, tidak jarang pria yang awalnya bersikap sebagai seorang suami yang bertanggung jawab dan gentelmen, menjadi seorang yang pemabuk, main perempuan, atau menyimpan WIL (Wanita Idaman Lain). Tak jarang diantara mereka yang melakukan perselingkuhan dengan wanita lain secara berlarut-larut (kumpul kebo misalnya), atau menjadi tergantung pada obat-obatan terlarang. Bla demikian, rusaklah rumah tangganya. Sementara bagi wanita, kekayaan sering membuatnya sombong dan tinggi hati, meskipun ini sangat tergantung pada sifat dan kepribadian dasarnya. Wanita sebagai isteri sering menganggap dengan harta, mereka dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Memang, sebagian dari pernyataan atau anggapan itu benar adanya. Namun bukan berarti dengan harta semata, anak-anak yang mereka didik akan menjadi baik. Anak yang terlalu dimanja dengan harta, akan menjadi anak pemboros, pemalas, tidak berdisiplin dan tidak bertanggung jawab serta akan selalu menagung-agungkan harta orang tuanya. Sang anak juga akan menjadi tinggi hati dan bergaul selalu pilih-pilih teman.

Wanita yang berkelebihan harta dan sering merasa kesepian karena ditinggal suami yang bekerja berminggu-minggu di luar kota, tidak jarang yang tega mengkhianati suaminya dengan memelihara pria lain, menjadi tante girang, atau menjadi perokok/pemabuk berat. Bila ini sampai terjadi, akibatnya akan parah. Wanita / isteri yang biasanya menjadi benteng terakhir ketahanan keluarga, akan menjadi hancur berantakan dan sangat berpengaruh terhadap eksistensi keluarga sebagai tempat yang nyaman dan sejuk untuk tinggal dan bergantung (secara emosi) bagi anggota-anggota keluarga lainnya, termasuk anak-anak.

  1. Persiapan sosial ekonomi

Persiapan dalam bidang sosial ekonomi, harus mendapat perhatian yang serius apabila kelak kita menginginkan keluarga yang kita bangun dapat lancar dalam menjalankan tugas-tugas dan fungsi keluarga. Terlebih pada aspek ekonomi, perhatian kita harus terfokus bagaimana kita nantinya dapat menggali sumber-sumber ekonomi keluarga yang bakal kita bangun. Ini bukan rencana atau persiapan main-main. Lebih-lebih di era seperi sekarang ini, orang semakin sulit mencari pekerjaan apabila tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang lebih dan dapat diandalkan. Sementara harus kita akui, kebutuhan sehari-hari semasa bujangan pun telah demikian banyak. Bagaimana jadinya kalau kita sudah berkeluarga, namun kita belum memiliki penghasilan yang tetap ?

Masa lajang bagi pemuda maupun pemudi, sebenarnya merupakan masa yang sangat baik untuk mempersiapkan kondisi ekonomi pribadi sebelum memasuki masa-masa sulit tatkala keluarga telah terbentuk. Jangan sampai nantinya kita menyesal yang tak berpenghujung, karena masa muda tidak kita gunakan untuk mengokohkan sektor perekonomian dengan bekerja sebaik-baiknya sesuai kemampuan. Ingat, tidak ada istilah “jilik” dan melepas tanggung jawab dalam bidang ekonomi bila kita sudah berkeluarga. Mampu tidak mampu, ada tidak ada, kita harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga berupa sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya. Atau minimal kebutuhan sehari-hari. Apalagi kebutuhhan ini merupakan kebutuhan dasar hidup manusia. Bila tak terpenuhi akan sangat buruk akibatnya. Tidak saja ketahaan keluarganya akan goyah, keutuhan keluargapun dapat terusik jika kebutuhan ini sampai terabaikan atau tidak terpenuhi. Sehingga jangan heran apabila seorang suami atau keluarga terpaksa hutang di sana sini atau melakukan perbuatan tak terpuji (korupsi, menipu atau bahkan mencuri, dan merampok) yang dapat merusak nama baik keluarga atau yang bersangkutan.

Oleh karena itu, agar tidak menjadi penyesalahan dikemudian hari, masa muda harus kita manfaatkan untuk belajar bekerja dan mencari pekerjaan sesuai dengan keinginan dan harapan kita (kalau mungkin). Masa muda harus kita gunakan untuk mencari peluang-peluang yang ada yang dapat dijadikan sumber-sumber ekonomi kita kelak bila sudah menikah.

Perlu disadari bahwa dengan kondisi ekonomi yang cukup mapan, secara langsung maupun tidak langsung akan mengangkat status sosial seseorang. Ini tentu akan berpengaruh banyak pada lingkungan pergaulan kita, dan berpengaruh pula terhadap  penilaian orang lain terhadap kita. Shb, bila fondasi ekonomi yang kuat dapat kita ciptakan pad aklg yang kita bangun, maka akan memberikan kemampuan pad aklg untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsi keluarga yang lain (selain fungsi ekonomi) dengan baik dan wajar. Jika semuanya itu telah mampu kita wujudkan, maka harapan untuk dapat membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera kelak di kemudian hari akan dapat menjadi kenyataan.

  1. Persiapan Pendidikan dan Ketrampilan

Belajar dan mencari ilmu pengetahuan dan ketrampilan adalah kewajiban kaum muda. Masa muda harus digunakan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Lebih-lebih ilmu itu sendiri akan dapat mengangkat derajat seseorang ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak sedikit orang yang awalnya kondisinya miskin, namun karna memilik ilmu yang banyak maka ia dapat hidup berkecukupan dan dihormati banyak orang.

Persiapan pendidikan dan ketrampila dalam hal ini, mempunyai maksud untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja yang akan menjadi sumber penghasilan kita. Belajar ilmu dan ketrampilan tidak boleh setengah-setengah, melainkan harus ditekuni dengan sungguh-sungguh. Agar dapat mencapai hasil yang maksimal, kita harus mendisiplin diri untuk selalu belajar setiap saat, dinamapun dan kapanpun serta dalam situasi bagaimanapun. Kita perlu menjadikan belajar sebagai tuntutan dan kebutuhan hidup, sehingga belajar dapat kita lakukan tanpa ada perasaan tertekan atau terpaksa.

Ketahuilah, pendidikan dan ketrampilan yang kita miliki dan kita cari di waktu muda, akan banyak manfaatnya kelak bila kita menghadapi situasi ekonomi yang sulit dalam kehidupan keluarga. Kita pasti akan merasa bersyukur, bila pada masa-masa ekonomi keluarga yang kritis, kita dapat menciptakan lapangan kerja baru secara mandiri yang dapat menyelamatkan keluarga dari kebangkrutan. Dari ceria dan kisah banyak orang, kita dapat mengetahui bahwa banyak keluarga yang hampir bangkrut dan ekonominya morat-marit, dapat terselamatkan dan dapat meraih sukses karena sang kepala keluarga atau anggota keluarga lainnya memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang mumpuni. Meskipun hal itu telah pula ditunjang dengan semangat, keberanian dan kemauan yang tinggi serta kesediaan untuk bekerja keras yang tidak perlu diragukan lagi.

Kesemuanya itu menunjukkan bahwa persiapan dalam pendidikan  dan ketrampilan, tidak bisa dianggap enteng. Jadi, kalau ada muda mudi yang menyia-nyiakan masa muda hanya untuk berhura-hura, tanpa ada kemauan untuk menuntut ilmu dan ketrampilan, berarti mereka telah menanamkan masa depan keluarga mereka yang suram. Apalagi hal itu ditambah dengan sikapnya yang bermalas-malasan. Pasti tidak ada jalan bagi mereka untuk dapat hidup sejahtera dan bahagia dikemudian hari,

  1. Persiapan keyakinan dan atau agama

Sebenarnya, persiapan in sejak masih kecil perlu dilakukan di bawah bimbingan orang tua. Setelah memasuki usia dewasa persiapan ini perlu diintensifkan. Keyakinan akan menjadi pemicu bagi kita untuk mau bekerja kera, sementara agama akan menjadi pembatas sekaligus penyelaras hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Dengan berbekal keyakinan, kita akan teguh dalam berusaha dan tidak cepat putus asa bila mengalami kegaglan. Keyakinan akan memberi kekuatan pada kita hingga usaha yang kita lakukan dapat mencapai keberhasilan. Dengan keyakinan yang kuat yang ada pada diri kita bahwa kita akan dapat membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera, maka akan memberi peluang yang besar pada keluarga yang kita bangun untuk benar-benar dapat menjadi bahagia dan sejahtera.

Ingat, keyakinan memiliki kekuatan yang besar pada kita untuk berhasil. Orang yang tidak mempunyai keyakinan akan kemampuan diri sendiri, berarti ia telah separoh dari seluruh kemenangan yang mestinya akan dicapai. Maka bila kita ingin berhasil, yakinkanlah diri kita sendiri bahwa kita mampu untuk berbuat sesuatu hingga mencapai apa yang kita harapkan.

Sedangkan dengan persiapan agama yang kuat, kita akan mampu menjadi orang yang tahan uji dan selalu mengembalikan segala godaan dan cobaan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan berbekal agama yang kuat, kelak bila kita telah berkeluarga, kita tidak akan berbuat semena-mena terhadap pasangan kia. Dan kita akan bertindak serta berperilaku sebatas norma-norma agama yang kita anut. Agama yang kita peluk dengan sungguh-sungguh akan membuat kita lebih dewasa dalam bersikap, berkata, maupun berbuat. Kita tidak akan bertindak sembrono yang dapat membuat suami / isteri kita menjadi sakit hati. Kita juga tidak akan berbuat yang membikin tetangga atau masyarakat kita marah.

Agama juga akan memberi tuntutan pada kita bagaimana seharusnya memdidik anak. Kita akan dibimbing untuk menjadi manusia yang saleh, menjadi orang tua yang bertanggung jawab, dan mampu menjadikan anak-anak kita sebagai orang yang berguna. Anak adalah amanat, yang harus kita bina dan kita didik menjadi orang yang baik-baik, yang berguna bagi nusa dan bangsa. Jadi menyia-nyiakan anak, sama artinya dengan menyia-nyiakan karunia Tuhan. Anak yang nakal tentu akan menyusahkan kita, dan bukan tidak mungkin, akibat kenakalan anak, kebahagiaan yang telah kita rengkuh dapat terlepas dan berganti dengan penderitaan hidup yang tak ada habis-habisnya.

Dengan demikian, persiapan dalam hal keyakinan dan atau agama, secara langsung maupun tidak langsung akan banyak memberi manfaat dalam upaya kita membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera dikemudian hari.

Itulah beberapa persiapan pokok yang perlu kita lakukan apabila kita menginginkan keluarga yang kita bangun kelak dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang sejati. Tentu masih banyak persiapan lain yang perlu kita lakukan, seperti persiapan tempat tinggal, persiapan perabotan rumah tangga, persiapan tempat usaha, dan lain-lain. Namun itu tidak prinsip, meskipun jika dapat pula melakukanna akan lebih baik. Karena tidak sedikit keluarga yang dibangun oleh pasangan tidak punya rumah, akhirnya bisa memeiliki rumah sendiri yang mungkin malah lebih baik. Itu pertanda, masalah persiapan lain-lain dapat ditunda, tetapi untuk persiapan yang lima butir (1 sampai 5) tidak dapat dikesampingkan. Apalagi diabaikan.

Ketidaksiapan pasangan muda-mudi terhadap beberapa hal di atas, biasanya akan menjadi pemicu dan pemacu keluarga menuju keretakan bahkan kehancuran rumah tangga. Karena keluarga yang dibangun dengan fondasi yang kurang kokoh maupun kepercayaan diri yang besar, kecil kemungkinannya dapat tercipta keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera.