Menjadi Ayah di Era Milenial

Menjadi Ayah di Era Milenial

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Di era milenial, perkembangan teknologi dan industri, diakui atau tidak telah merubah tatanan nilai, sistem dan perilaku sosial di tengah masyarakat yang mempengaruhi peran ayah dan ibu dalam keluarga. Bila di masa lalu seakan telah menjadi kesepakatan bersama bahwa tugas seorang ayah dibatasi untuk hal-hal yang bersifat materi, keuangan atau pemenuhan ekonomi keluarga saja, maka sekarang dengan banyaknya ibu yang bekerja bahkan menjadi tulang punggung atau pencari nafkah utama keluarga, maka menjadi ayah di era milenial harus mampu menyesuaikan diri. Salah satunya dalam pengasuhan anak.

Ada empat peran ayah di era milenial, agar fungsi-fungsi keluarga terutama fungsi sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pertama, mendampingi istri saat masa kehamilan. Peran ini dapat dilakukan dengan mendampingi istri dalam pemeriksaan kandungan dan persiapan kelahiran. Hal ini sangat penting karena kehadiran suami sangat mempengaruhi kondisi emosi istri dan akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin.

Kedua, turut merawat bayi. Jika seorang ayah ikut membantu merawat bayi maka akan berdampak pada peningkatan kesabaran dan semangat ibu dalam merawat bayi dan menyusui dengan sebaik-baiknya. Bagi si ayah, hal itu dapat dilakukan dengan ikut mengganti popok, memandikan dan menggendong bayi dengan terus memberikan rangsangan agar pertumbuhan dan perkembangan bayi dapat optimal. Misalnya dengan mengajak berbicara, melatih gerakan fisik sesuai usanya, dll.

Ketiga, melakukan aktivitas bersama anak. Hal ini dapat dilakukan oleh seorang ayah dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan bagi anak seperti bermain bola, jalan-jalan, bersepeda, rekreasi, membaca, mendongeng, menggambar dan sebagainya.

Keempat, menciptakan komunikasi yang baik. Dalam hal ini ayah dapat mengajak anak untuk berdialog, berdiskusi bersama anak untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi anak. Menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah, apa saja aktivitas yang dilakukan Bersama teman-temannya dan sebagainya. Jika ada pekerjaan yang menyebabkan seorang ayah harus meninggalkan rumah beberapa hari, maka hendaklah selalu menyempatkan diri untuk menghubungi anak baik melalui panggilan telepon atau  media sosial. Dengan demikian, anak merasakan bahwa komunikasi dengan ayahnya tetap berjalan lancar.

Jika peran ini dapat dimainkan oleh ayah di era milenial ini, maka upaya mewujudkan generasi masa depan yang berkualitas dan berkarakter akan tercapai. Lebih dari itu, keluarga yang dibangun bersama ibu akan memiliki ketahanan yang kokoh, tentram, mandiri dan bahagia. Ayo menjadi ayah hebat di era milenial.