MEMBANGUN INTEGRITAS DIRI

Hampir setiap organisasi saat ini,--  baik sektor publik maupun privat, berusaha mengembangkan dan mendambakan setiap anggota organisasinya memiliki Integritas yang tinggi. Kompetensi sikap ini diyakini akan menjadi fondasi sikap  yang kuat  menjadi   daya dongkrak terhadap kinerja organisasinya. Lantas apa itu integritas, apa bedanya dengan kejujuran. Tulisan singkat ini akan sekilas  menjelaskan hal itu, --- sebagai ikhtiar untuk  mengenalkan kompetensi  integritas, terlebih diharapkan dapat menjadi panduan memperbaiki diri guna mengembangkan integritas diri.

ARTI & URGENSI

Integritas adalah sebuah konsep yang menggambarkan bentuk kecerdasan manusia yang sangat penting yang akan mempengaruhi aspek sikap yang lain. Stephen R. Covey  – penulis buku best seller  “The 7 Habit on Highly Effective People” menyatakan, integritas mencakup lebih dari kejujuran. Kejujuran adalah mengatakan kebenaran – dengan kata lain menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Sedangkan integritas  adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata  – dengan kata lain memenuhi janji dan memenuhi harapan. Integritas pada hakekatnya adalah nilai yang diberikan pada diri  sendiri. Integritas adalah kehormatan pada diri  sendiri, suatu bagian fundamental dari etika karakter, inti dari pertumbuhan proaktif. Integritas merupakan satunya kata dengan perbuatan atau kepatuhan tindakan terhadap apa yang telah diucapkan atau dijanjikan. Individu yang memiliki integritas adalah orang yang selalu menjunjung tinggi terhadap apa yang telah diucapkan,  terhadap apa yang telah dijanjikan untuk dilaksanakan atau dibuktikan dalam tindakan realita. Sedangkan kejujuran adalah  mendengarkan perasaan kuat dari lubuk hati yang paling dalam – yang timbul dari pusat kecerdasan emosional dan spiritual.  Tidak adanya integritas akan menghancurkan citra terhadap orang atau institusinya. Oleh karenanya integritas merupakan modal besar bagi individu untuk membangun kepercayaan, sehingga merupakan perilaku efektif membangun karier seseorang.

Integritas dan kejujuran memiliki urgensi  penting dalam membangun kredibilitas. Salah satu atribut esensial dari kredibilitas adalah integritas dan kejujuran. Kredibiltas berasal dari kata “credo” yang artinya percaya. Orang yang memiliki kredibilitas berarti orang tersebut layak dipercaya, karena memiliki kejujuran dan integritas dalam dirinya. Ia akan selalu mengatakan apa yang sebenarnya sesuai dengan realitas yang diketahui dan merealisasikan sesuatu sesuai dengan yang diyakini atau telah dijanjikan. Kompetensi ini merupakan salah satu modal  dasar dalam menaiki tangga karier. Untuk dapat menjadi pemimpin yang berhasil, integritas dan kejujuran merupakan salah satu prasarat penting yang harus dimiliki.

HASIL PENELITIAN

Beberapa lembaga internasional yang bergerak dalam bidang manajemen atau kepemimpinan telah melakukan berkali-kali survey tentang karakteristik pemimpin yang berhasil dan dikagumi.  Hasil penelitian itu  mengungkapkan bahwa pemimpin yang jujur atau memiliki integritas selalu mendapatkan skor tertinggi. Jawaban yang paling sering dalam urutan disebutkannya adalah :  (1) integritas (pemimpin tulus, bisa dipercaya, mempunyai watak, mempunyai keyakinan); (2), kecakapan (pemimpin mampu bekerja, produktif, efisien); (3), kepemimpinan (pemimpin yang meberikan inspirasi, pasti, memberikan arah) (Kouzes dan Posner : 1997). Integritas dan kejujuran sekali lagi merupakan karakteristik penting dalam diri individu.  Orang yang memiliki integritas dan kejujuran akan dipercaya orang. Kepercayaan orang terhadap dirinya merupakan hasil dari perilakunya yang telah dilakukan. Orang yang memiliki integritas dan kejujuran secara lambat laun telah membangun reputasi atau jaminan dan pengakuan dari orang lain.  Orang lain akan mengakui atas integritas dan kejujurannya, sehingga ia akan dipercaya  di lingkungannya.

TIDAK ASAL BAPAK SENANG (ABS)

Integritas dan kejujuran tinggi akan menjauhkan dari sikap bermuka dua – kalau di depan pimpinan memuji dan mengeluk-elukkan atau bersikap asal bapak senang (ABS) – karena menginginkan pujian dan agar dipandang loyal, akan tetapi manakala pimpinan tidak di dekatnya, maka sikapnya menjadi berubah 180 derajat—orang itu menjadi sangat kritis, mencemooh bahkan merendahkan martabat pimpinan  di depan orang lain. Orang tidak berani menyampaikan hal yang sebenarnya atau sesuai realitas di hadapan pimpinannya – disimpan, dipendam dengan hanya mengatakan hal-hal yang baik-baik saja. Pada hal yang disampaikan itu jauh dari realitas yang sesungguhnya.  Integritas dan kejujuran adalah panggilan hidup setiap orang – ia akan hadir dalam setiap lubuk hati manusia.

PERJUANGAN HIDUP

Menjadi dambaan setiap organisasi memiliki personil yang berintegritas tinggi. Akan tetapi tentu  tidak mudah  menemukan orang yang tidak pernah atau bebas sama sekali dari  tindakan yang telah “menciderai” integritas atau kejujurannya. Sekecil apapun tentu setiap orang pernah berbuat keasalahan atau yang bernuansa menurunkan citra integritas dan kejujuran. Kecuali dalam diri pribadi Rosululloh  Nabi Muhammad SAW yang telah diakui oleh orang dekat  atau sahabat bahkan musuh sekalipun  kala itu -- sebagai pribadi yang dapat dipercaya atau amanah – suatu nilai yang terkait dengan integritas dan kejujuran. 

Akan tetapi sebagai seorang yang awam --  sekali atau dua kali – tentu pernah  melakukan tindakan atau mengurangi   integritasnya.  Hanya saja orang yang berusaha mempunyai integritas dan kejujuran tinggi,  apabila sengaja atau tidak sengaja, disadari atau tidak disadari  terlanjur berbuat kesalahan yang mencerminkan ketidakjujuran atau menciderai  integritasnya, segera ia menghentikan perbuatan dirinya dan dengan menutup kesalahan itu dengan kebaikan. Dengan demikian, semangat untuk memiliki integritas dan kejujuran tidak pernah sirna dalam dirinya – sebagai perjuangan hidup yang akan selalu di perjuangkan.

Namun apabila seseorang terlanjur melakukan tindakan yang menciderai integritas dan kejujuran, tidak segera menghentikan perbuatannya itu,  maka ia akan terperosok  semakin dalam pada tindakan yang bertentangan -- atau bahkan melawan sikap yang mencerminkan integritas dan kejujuran. Bukannya orang tersebut sadar terhadap tindakannya yang menciderai integritasnya, akan tetapi semakin menceburkan dirinya dalam tindakan dan perbuatan yang menghancurkan integritas atau  menghancurkan kredibilitasnya.  Maka reputasi atau  kepercayaan orang terhadap dirinya menjadi hilang.  (SDM)