Tantangan Bangga Kencana 2020

Tantangan Bangga Kencana 2020

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Tahun 2019 yang merupakan tahun terakhir RPJMN 2015 – 2019 dan Renstra BKKBN 2015 – 2019 telah terlewati. Saat ini kita telah memasuki tahun 2020 yang merupakan tahun pertama dalam RPJMN 2020-2024 dan Renstra BKKBN dalam rentang tahun yang sama. Banyak hal yang telah dicapai  oleh BKKBN dalam Pembangunan Kependudukan Keluarga Berencana selama ini, namun masih banyak pula permasalahan dan tantangan  yang  harus dihadapi.

Di tahun 2019, sasaran dan capaian nasional pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana dengan lima indikator utama  adalah sebagai berikut: Pertama, Total Fertility Rate (TFR)  target 2,24 tercapai 2,45 atau 93,1%  Kedua, Contraceptive Prevalence Rate (CPR) target 61,3 tercapai 54,97 atau 89,7% Ketiga, Tingkat Putus Pakai Kontrasepsi (Drop Out) target 24,6 tercapai 29,0 atau 84,48%  Keempat, Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) target 23,5 tercapai 24,6 atau 104,7%  Kelima, Unmet Need atau kebutuhan KB yang tidak terpenuhi target 9,91 tercapai 12,1 atau 81,9%.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang di tahun 2020 berubah nama menjadi Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), belum mencapai hasil yang menggembirakan.  Karena hanya 1 dari 5 indikator yang capaiannya lebih dari 100%, selebihnya masih membutuhkan kerja keras untuk mencapai target. Sementara di tahun 2020, sesuai Peraturan BKKBN No 6 Tahun 2020 tentang Renstra BKKBN 2020 – 2024, BKKBN telah menargetkan TFR sebesar 2,26, CPR 61,78 dan Unmet Need 8,60. Selebihnya, Age Spesific Fertility Rate (ASFR 15-19) 25, Indeks Pembangunan Keluarga 53,50 dan Median Usia Kawin Pertama Perempuan (MUKP) 21,9.

Dalam rangka pencapaian target, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi  BKKBN bersama seluruh stakeholdernya. Tantangan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, dalam rangka mencapai target TFR 2,26 pada akhir tahun 2020 dari kondisi saat ini yang masih 2,45 diperlukan upaya ekstra untuk mencapainya. Karena dalam menurunkan TFR, kita tidak dapat hanya semata-mata mengandalkan peningkatan kesertaan Pasangan Usia Subur (PUS) dalam ber-KB, tetapi juga bagaimana keseriusan kita dalam menekan kasus pernikahan dini dan pergaulan bebas yang berefek pada mengecilnya kasus persalinan remaja serta memotivasi pada PUS untuk mengurangi keinginan memiliki anak lebih dari 2. Selain itu juga mengembangkan sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya yang akan merubah paradigma masyarakat tentang pengharapan memiliki anak.

Kedua, dalam rangka mencapai target CPR 61,78% dari kondisi saat ini 54,97% atau harus menaikkan 6,81% dalam waktu satu tahun bukanlah hal yang mudah. Apalagi di tengah suasana Pandemi Covid-19 yang mau tidak mau kita semua harus menerapkan physical dan social distancing serta mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Bila angka itu dikonversikan dengan jumlah PUS di Indonesia sebanyak 51 juta, berarti harus ada penambahan peserta KB aktif sebanyak 3,47 juta. Sementara dalam tiga tahun terakhir, capaian CPR terus menurun dari 60,9% pada tahun 2016 menjadi 57,2% pada tahun 2017, turun lagi menjadi 57,0% pada tahun 2018 dan turun lagi menjadi 54,97%. Dengan demikian, harus ada upaya ekstra untuk menambah jumlah akseptor baru melalui penyuluhan dan pelayanan yang prima selain menekan jumlah akseptor dropout sehingga efektif menaikkan Peserta KB aktif.

Ketiga, dalam rangka mencapai target unmet need 8,60% dari kondisi saat ini 12,1% yang berarti harus menurunkan 3,5% atau 1,785 juta PUS bukan perkara mudah. Tidak cukup dengan pelayanan KB berkualitas dan dukungan sarana prasarananya yang memadai, tetapi juga harus dibarengi dengan kegiatan advokasi KIE yang intensif oleh Penyuluh KB/kader mengingat sebagian besar unmet need adalah PUS kategori usia 40 tahun ke atas dan atau PUS yang belum pernah ber-KB karena berbagai alasan.

Tantangan ini belum termasuk  upaya menurunkan ASFR 15-19 yang ditargetkan menjadi 25 pada akhir  tahun 2020 dari kondisi saat ini yang masih 33 per 1000 perempuan. Juga menaikkan MUKP menjadi 21,9 tahun dari kondisi saat ini  21,8 tahun. Selanjutnya, seiring dengan ditetapkannya target Indeks Pembangunan Keluarga  sebesar 53,57 pada tahun 2020, tentu saja tantangannya semakin bertambah. Karena BKKBN harus berupaya meningkatkan kemandirian, ketenteraman dan kebahagiaan seluruh keluarga di Indonesia melalui upaya pemberdayaan, pembinaan, pendampingan dan fasilitasi yang intensif agar mencapai hasil yang optimal.

Kita tentu berharap BKKBN di bawah kepemimpinan dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dapat menjawab tantangan tersebut dengan mengerahkan segenap daya dan upayanya serta bersinergi dengan semua pihak. Apalagi quick wins untuk memperbaiki sistem dan kinerja serta rebranding BKKBN agar diminati kaum milenial dan zilenial, sudah dicanangkan. Dengan demikian, nafas program Bangga Kencana telah menghembus di mana-mana yang dipastikan akan mampu mendorong seluruh stakeholder dan masyarakat sasaran untuk berpartisipasi secara lebih baik.

Agaknya keberhasilan Pelayanan KB Sejuta Akseptor di tengah Pandemi Covid-19 yang mampu memecahkan Rekor MURI, 29 Juni 2020 lalu, akan menjadi awalan yang baik  bagi BKKBN di bawah Kepemimpinan Hasto Wardoyo untuk menggelorakan kembali semangat ber-KB pada masyarakat terutama PUS yang selama ini belum KB karena berbagai alasan. Apalagi Hari Kontrasepsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 26 September sudah dekat. Momentum itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh BKKBN tidak saja untuk meningkatkan kesertaan KB, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas kesertaannya dengan penggunaan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKJP) terutama Intra Uterine Device (IUD) dan Implant (Susuk KB).