Dialog Indonesia Ke-8, Indonesia Maju

Senin, 12 Maret 2018 08:59:27 - Oleh : Bidang Pemberdayaan Pemerintahan Desa

Orientasi Penulisan KTI dan Artikel KKBPK

Bupati Melantik Kepala Desa Hasil Pilkades Serentak 2018

Berkat Lagu Plesiran Nang Kulon Progo, FB Dalduk Jangkau 14.780 orang

Lagu KB Pancen Nyoto, Dipublikasikan Kabupaten Pringsewu

Rumah Data Kampung KB Ngramang Diresmikan

Dialog Nasional ke 8, Indonesia Maju, di Gedung Sportorium UMY, Minggu 11 Maret 2018, yang dihadiri Kapolri Jenderal Pol. Prof. Drs. H. Muh.  Tito Karnavian, MA Ph.D, Menteri Keuangan Sri Mulyani, S.E, M.Sc. Ph.D, Menteri Perhubungan dan Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, Gubernur DIY, Bupati/Walikota se-DIY, Kepala Desa dan Perwakilan Perangkat Desa se- DIY dengan Moderator Efendi Ghozali membahas berbagai isu nasional tentang kebijakan fiskal. Keuangan negara yang baik bisa dianalogikan kesehatan manusia. APBN itu instrumen, bukan tujuan. Hutang kita tidak boleh lebih dari 60 persen dari Produk Domestik Bruto. Pemerintah menginginkan ekonomi tumbuh 7 persen. Oleh karena itu masyarakat harus punya daya beli dan perlu diciptakan lapangan kerja serta didorong iklim investasinya. Tumbuh tidaknya ekonomi bukan hanya tanggung jawab Menteri Keuangan, namun tanggung jawab bersama berbagai elemen negara dan elemen masyarakat.

Kapolri lebih lanjut mengulas, alasan didirikannya negara adalah mensejahterakan rakyatnya. Tidak dapat dipungkiri keamanan dan pertumbuhan ekonomi mempunyai korelasi yang kuat. Perfoma pertumbuhan ekonomi kita cukup meyakinkan, diatas 5 persen pertahun. Indonesia berpotensi menjadi negara dominan/major power dengan syarat pertumbuhan ekonomi baik disertai adanya stabilitas politik dan keamanan.

Sisi lain disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasarrudin Umar, MA Islam dilahirkan dari Saudi Arabia di Mekah dan pindah ke Madinah lalu ke Syiriah, Bagdad, dan Turki. Dunia hampir sepakat kepemimpinan Islam adalah Asia Tenggara  yakni Indonesia. Kiblat peradapan Islam ada di Indonesia. Islam bisa paralel dengan prinsip demokrasi dan pararel dengan gender. Namun secara tektual kita memang bukan Negara Islam. Secara umum prestasi keagamaan negara kita tumbuh luar biasa, bukan hanya dominasi Islam saja.

« Kembali | Kirim | Versi cetak