Lintasan Sejarah Program KB Kulon Progo

Rabu, 20 Maret 2019 13:21:39 - Oleh : Bidang Pengendalian Penduduk

 

Mengenang Program KB Kulon Progo Masa Lalu

Kondisi Sebelum Ada Program KB di Kulon Progo

Oleh: Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

           Era tahun 1970-an, Kabupaten Kulon Progo adalah sebuah potret yang menggambarkan betapa kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan kesengsaraan hidup selalu mewarnai kehidupan penduduknya. Potret kemiskinan dan keterbelakangan ini tampak jelas pada banyaknya penduduk yang kekurangan gizi, tidak layaknya tempat pemukiman mereka serta pemenuhan kebutuhan sandang yang jauh dari mencukupi.

            Masalah kekurangan gizi merupakan masalah serius bagi penduduk pada saat itu, terutama bagi anak-anak balita. Betapa tidak, hingga pertengahan tahun 1965, hamper semua penduduk di Kulon Progo makanan andalannya masih “sego-jagung” (nasi dicampur jagung) dan sangat jarang bahkan hamper tidak ada yang makan nasi tanpa campuran makana lain. Bahkan di beberapa wilayah yang lebih miskin seperti Girimulyo, Samigaluh, kokap dan beberapa daerah di pimggiran di Sentolo, Nanggulan dan Kalilbawang, makan “oyek” (thiwul yang dikeringkan), canthal dan thiwul dengan sayur seadannya (sayur so, lompong/tales, telo mumthul, krokot, pupus daun oyong dll) sudah manjadi manu sehari-hari tanpa lauk pauk apalagi susu. Sementara untuk buah-buahan guna mencukupi kebutuhan gizi, hanyalah buah-buahan dari kebun/pekarangan sendiri. Itu saja untuk buah pisang, papaya, atau lainnya yang laku dijual lebih sering ditukarkan dengan beras dari pada dikonsumsi sendiri.

            Menurut penuturan Bapak R. Adi Waluyo, R. Noto Siswoyo, dan rekan-rekan seperjuangannya sebagai pelaku kehidupan saat itu yang selanjutnya dikenal sebagai tpkoh-tokoh perintis KB di Kabupaten Kulon Progo menuturkan, era 1960 1970 adalah masa-masa sulit mencari makan-makana bergizi.jangankan bergizi, bagi kekuarga yang tidak mampu adalah sesuatu yang wajar bila makanan sehari-harinya berupa jengan jagung atau thiwul dengan sayur “gudheg bonggol pisang”, “gudhangan krokot sawah”, “pupus daun ganyong” atau “dang-dangan daging pohon papaya”.

            Sementara dari sisi tempat tinggal/prmukiman, cendeeung sangat tidak layak untuk ditempati. Limgkungan tempat tinggal/pemukiman saat itu belum memenuhi sharat kesehatan. Hal ini ditandai dengan banyaknya kamdang sapi/lembu, atau hewan lainnya di samping atau di depan rumah, jalan yang becek, dan tiadanya tempat sampah yang khusus. Disampimg itu, di lingkungan  pekarangan rumah masih banyak pepohonan/rumput liar yang belum tertata rapi dan cenderung kumuh.

            Sementara kondisi rumah penduduk saat iru umumnya berdinding bamboo tanpa jendela, atap rumah pakai daun kelapa (atep), dan lantai dari tanah yang mejadi lembab pada musim penghujan dan berdebu pada musim kemarau. Bila mlam hari. Penerangan pakai lampu minyak (senthir/teplok) dan penerangan di pinggir jalan berupa ting. Pada umunnya rumah-rumah yang ada waktu itu belum di lengkapi dengan kamar mandi/WC yang layak. Umumnya sumur yang ada (sebagai sumber air keluarga) masih berbentuk sangat sederhana, alat timbannya dengan “senggot” dan tanpa pembuangan limbah yang khusus sehingga airnya “mbleber” ke mana-mana.

            Sedangkan kondisi pemenuhan sandang penduduk saat itu masih cukup memprihatinkan walaupun sudah tidak memakai karung goni atau bagor sebagai bahan membuat baju dan celana. Namum umumnya mereka masih menggunakan pakaian secara “gantung kepuh” artinya pakaian satu digunakan untuk berbagai keperluan karena pakaiannya hanya satu.

            Penduduk Kulon Progo saat itu umumnya memperoleh kain dari pampasan yang dibagikan oleh pemerintah. Bahannya berupa kain bilkolin. Pakaian yang digunakan anak laki-laki berupa celana kolor dan kaos oblong sengakan yang perempuan berupa rok “rampel” yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dipadukan dengan baju yang jahitannya seperti kaos.

            Selain masalah pangan, papan dan sandang yang boleh dibilang sangat sederhana dan tidak memenuhi standar kehidupan yang sehat. Satu hal yang tampak menonjol di era 1960-1970-an adalah banyaknya anak dari keluarga-keluarga yang masih relatif miskin. Pada saat itu, sebuah keluarga memiliki anak 5, 6, 7, atau 8 sudah manjadi pemandangan yang biasa. Bahkan ada beberapa keluarga di wilayah Kulon Progo yang memiliki 10 anak atau lebih.

            Dengan demikian wajar, apabila pada era 1960 hingga 1970-an banyak dijumpai ibu muda usia 20 tahun yang tidak saja nggandeng dan nggendong anakya, tetapi masih juga nggembol (mengandung) janin yang dalam beberapa bulan lagi akan lahir sebagai anak manusia. Wajah sang ibu muda tersebut umumnya tampak letih dan pucat dengan pandangan yang sayu dan kosong. Wajah tampak letih dan pucat karena disamping kelelahan mengurus balita dan pekerjaan rumag tangga yang menuras tenaga, juga kondisi sang ibu yang belum pulih benar akibat terlalu sering melahirkan. Sedangkan pandangan yang sayu  dan kosong dikarenakan sang ibu nelihat masa depan yang suram bagi anak-anaknya, biaya membesarkan dan Pendidikan anak-anaknya yang tidak tertanggungkan serta kebutuhan sehari-hari yang terus menghimpit.

            Kenyataan tersebut merupakan gambaran perwujudan penderitaan, keprihatinan yang harus dialami sebagian besar ibu-ibu di Kulon Progo pada saat itu. Kedudukan dan status kaum ibu yang diwarisi dari tradisi dan budaya nenek moyang mengharuskan mereka untuk tetap menerima keadaan itu dengan tabah dan sabar.

            Sebagian besar wanita pedesaan, khususnya yang berpendidikan rendah atau yang sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan di sekolah, justru menerima kondisi tersebut sebagai takdir yang tidak bisa ditolak dan harus diterima dengan rasa ikhlas (narimo). Hampir tidak pernah terlintas dalam benak mereka, bahwa mereka perlu memperjuangkan haknya yang berkaitan dengan anak-anak yang kan dilahirkan. Apabila mereka tidak mempunyai keberanian untuk itu. Sebagai salah satu pusat budaya jawa di DIY, dimana system panutan masih dekat di masyarakat daerah ini, peran ayah atau suami sebagai pengambil keputusan dalam keluarga masih sangat dominan. Demikian pula yang berkaitan dengan jumlah anak dalam keluarga, suami sebagai penentu.

            Anak yang ibaratnya permata hati dalam keluarga memang akan selalu menimbulkan kebanggaan bagi oaring tuanya. Pada masa itu, jumlah anak yang besar, dengan jumlah sepuluh atau lebih, atau minimal angka diatas llima diucapkan dengan penuh kebanggan, setiap kali meeka bertegur sapa dengan teman atau keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Sekedar jumlah yang besar, mereka belum bicara soal mutu. Tidak peduli apakah anak-anak tersebut akan mampu “mikul dhuwur, mendem jero” (mengangkat derajat keluarga) seperti yang mereka idamakan atau tidak. Oleh karena itu, jangan heran apabila angka kematian bayi dan angka kematian ibu karena proses reproduksi yang tidak sehat itu cukup tinggi. Menurut penuturan ibu Dubini, ibu Broto, dan ibu Ester, bidan yang masing-masing pernah bertugas di Kecamatan Girimulyo. Kecamatan Temon dan Kecamatan Galur cukup banyak ibu dan atau anak yang dilahirkan tidak dapat diselamatkan jiwanya karena kondisi kesehatannya yang buruk serta akibat kekurangan gizi.

            Yang sangat ironis, kematian bayi yang cukup tinggi saat iru, belum menumbuhkan pemikiran untuk memperbaiki kondisi kesehatan ibu dengan memberikan kesempatan sehat dulu sebelum hamil, tetapi justru ada rasa takut punya anak sedikit karena sebagian besar atau seluruhnya akan mati muda disamping motivasi klise sebagian keluarga yang ingin punya banyak anak karena nantinya ada yang memelihara sawah dan ladangnya.

Demikianlah kondisi kehidupan masyarkat dan keluarga di Kabupaten Kulon Progo era 1960 1970-an. Secara umum memang kondisinya memprihatinkan. Apalagi peran pemerintah saat itu dalam bidang kesejahteraan masyarakat belum tampak menonjol meingkatkan kemempuannya yang masih sangat terbatas.

« Kembali | Kirim | Versi cetak