Komitmen Kampung KB Perangi Stunting

Senin, 18 Maret 2019 14:14:38 - Oleh : Bidang KB

Sosialisasi Stunting di KP KB Pagerharjo Samigaluh

Evaluasi dan Perkembangan Desa Tingkat Kabupaten Kulon Progo Tahun 2019

Sosialisasi Pengendalian Pertumbuhan Penduduk

Kunjungan Lapangan pada Calon Penerima SP Bidang KKBPK

MAD Pembentukan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) dan Sosialisasi PID 12 Kecamatan

Musda BODRONOYO Tahun 2019

Dalam rangka lebih memberikan pemahaman kepada ibu baduta (bawah dua tahun), serta untuk menurunkan kasus stunting pada 10 (sepuluh ) desa stunting/kampung KB, telah dilakukan sosialisasi pola asuh pada ibu baduta melalui pengasuhan generadi emas di 1000 hari pertama kehidupan.

Sosialisasi ini dilaksanakan di seluruh desa stunting di Kabupaten Kulon Progo, dimana pada tahun 2018 semuanya telah menjadi Kampung KB. Dimulai pada Kamis, tanggal 14 Februari 2019 di Kampung KB sekaligus desa stunting Tuksono Sentolo serta di dua desa lain yaitu Banjaroyo Kalibawang dan Kulur Temon. Pada Rabu  tanggal 20 Februari kegiatan dilanjutkan di Kampung KB Donomulyo Nanggulan,serta Jumat tanggal 22 Februari 2019 di Kampung KB Nomporejo Galur dan Gerbosari Samigaluh. Pada hari Selasa sampai dengan hari Kamis tanggal 26 Februari sampai dengan 28 Februari 2019 juga diselesaikan sosialisasi tersebut ke beberapa Desa Kampung KB sekaligus desa stunting yaitu : Pagerharjo, Ngargosari, Karangsari, Tuksono, Kebonharjo dan Desa Sidoharjo Kecamatan Samigaluh.

Dalam materinya Kepala Bidang KB Dinas PMD Dalduk dan KB menyampaikan bahwa stunting adalah kondisi di mana anak pertumbuhanya  lebih pendek dibanding anak yang tumbuh normal di usia sebayanya, yang diakibatkan karena kekurangan gizi dalam waktu yg lama (kekurangan gizi kronik)  yaitu anak sudah kekurangan gizi sejak dari dalam kandungan.

Stunting menjadi penting untuk ditanggulangi bersama karena permasalahan yang muncul pada anak stunting selain dari tubuhnya lebih pendek dari anak sebayanya,  juga pertumbuhan dan perkembangan otak yang tidak optimal sehingga berdampak pada kecerdasan,  kemampuan daya saing dan kesempatan kerja yang menjadi lebih sempit,  juga pada munculnya penyakit degeneratif di kemudian hari.

Stunting dapat dicegah sejak sedini mungkin,  yaitu dengan mencukupi kebutuhan gizi pada ibu hamil sampai dengan anak usia 2 tahun atau dengan melakukan pengasuhan 1000 HPK (hari pertama kehidupan) yaitu 270 hari dalam kandungan,  dan 730 hari dari lahir sampai dengan anak usia dua tahun,  yang dikenal dengan "golden periode" (periode emas)  dimana pada periode tersebut pertumbuhan otak sedang pada masa puncaknya yaitu s/d 80 persen otak terbentuk sempurna. Sisanya tinggal sekitar 20 persen yg bisa diteruskan s/d anak usia 5 tahun.

Karena permasalahan yang muncul akibat stunting begitu merugikan bagi kualitas hidup generasi bangsa kita,  maka permasalahan stunting harus diketahui oleh semua masyarakat indonesia,  dan semua harus bersama-sama mencegah permasalahan tersebut dimulai dari usia remaja.

Anak remaja sudah harus tahu tentang kebutuhan gizi untuk tumbuh kembangnya, dan terutama untuk remaja putri harus mencegah anemia dan KEK (kekurangan energi kronik) yang ditandai dengan lingkar lengan kiri atas kurang dari 23,5cm. Hal tersebut menjadi penting terkait dengan persiapan diri untuk kesehatan reproduksinya, agar kelak jika sudah waktunya untuk berumah tangga bisa mencetak generasi yg sehat dan berkualitas. Mari bersama cegah stunting sejak dini dengan melakukan penundaan usia perkawinan,  pengasuhan 1000 HPK,  dan mengatur jarak kelahiran dengan ikut ber KB.

Data menunjukkan bahwa penanggulangan stunting   dari sektor kesehatan saja hanya akan menanggulangi permasalah stunting sebesar 30% (gizi spesifik),  sedangkan 70 persen sisanya harus ditanggulangi bersama di luar sektor kesehatan (gizi sensitif).

Berdasarkan hasil risert tentang kejadian stuntin juga menunjukkan bahwa kehamilan pada usia muda (di bawah 20 tahun)  menyumbang kejadian stunting lebih besar dibandingkan kehamilan pada ibu-ibu usia reproduksi sehat di atas 20 tahun.

Di akhir pemaparan disampaikan bahwa hasil penelitian dari UGM yg sudah disosialisasikan di Kulon Progo,  permasalahan pestisida yang ada pada makanan juga berdampak pada timbulnya stunting di Kabupaten Kulon Progo.(Wn)

« Kembali | Kirim | Versi cetak