Menjadi Orangtua Hebat dalam Mengasuh Anak

Selasa, 5 Maret 2019 14:39:03 - Oleh : Ngatini, SE, Penyuluh KB Kecamatan Wates

 

MENJADI ORANGTUA HEBAT DALAM MENGASUH ANAK
Oleh:

 

Ngatini, SE
Penyuluh KB Kecamatan Wates

 

Realitas menunjukkan bahwa banyaknya kegagalan keluarga dalam pengasuhan anak, bukan karena kurangnya kasih sayang orang tua, melainkan sebagian orangtua tidak tahu bagaimana cara mengasuh anak yang baik dan benar. Padahal orangtua adalah orang yang memiliki peran penting dalam proses asuh, asah dan asih bagi anak-anaknya. Di mata anak, orangtua atau ayah dan ibu adalah sosok “guru” yang pertama dan utama bagi anak, selain sebagai pelindung dan tempat bergantung. Oleh karena itu, wajar bila orangtua menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber kebahagiaan bagi anak.

Kegagalan orangtua dalam mengasuh anak, tentu akan berakibat fatal. Bukan saja bagi orangtua sebagai pengasuh tetapi juga bagi anak sebagai insan yang diasuh. Bagi orangtua, kegagalan dalam mengasuh anak akan berdampak pada pupusnya harapan orangtua untuk dapat mewujudkan anak yang dalam agama Islam disebut shaleh dan shalehah. Yakni anak yang taat beribadah, berperilaku baik, menghormati/menghargai orangtua  maupun orang lain , serta  mampu menjunjung tinggi nama orangtua, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.  Sementara bagi anak itu sendiri, kegagalan orangtua dalam mengasuh anak akan menyebabkan anak kurang memiliki kendali diri, tidak mampu menjadi diri sendiri, bertindak semaunya sendiri tanpa mempertimbangkan etika dan norma, tidak memiliki semangat dan gairah untuk belajar menimba pengetahuan  dan ketrampilan yang cukup guna meraih masa depan, serta cenderung berperilaku menyimpang yang menyebabkan mereka  dijauhi, dikucilkan bahkan dianggap “musuh” oleh masyarakat.

Kasus-kasus perilaku negatif anak dan remaja seperti pergaulan bebas, minum-minuman keras dan penyalahgunaan napza adalah sebagai contoh akibat kegagalan orangtua dalam mengasuh anak. Belum lagi tumbuhnya sikap egois dan mau menangnya sendiri, tidak menghargai tradisi dan budaya ketimuran, serta kesukaannya pada tindak kekerasan dan  hal-hal lain yang erat dengan kelicikan, penipuan, pelecehan dan lain sebagainya.

Mengingat kondisi kenakalan anak  yang makin parah, sudah saatnya para orangtua sekarang ini merefleksi diri,  kesalahan apa yang dilakukan selama ini sehingga gagal dalam mengasuh dan mendidik anak. Sudah saatnya pula para orangtua belajar dan terus berupaya mencari solusi pemecahannya agar menjadi orangtua yang hebat dalam mengasuh dan mendidik anak di tengah era globalisasi.  Dengan demikian anak yang diasuh pun menjadi hebat pula tidak hanya dalam hal kepribadian, sikap, dan ketaatannya dalam beribadah, tetapi juga semangatnya untuk berjuang meraih masa depan yang lebih baik dengan berbekal pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki.

Menjadi orangtua hebat dalam mengasuh anak, sudah barang tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak upaya yang harus dilakukan. Dalam pemikiran penulis, setidaknya ada empat upaya yang harus dilakukan orangtua agar menjadi orangtua hebat dalam mengasuh anak. Keempat hal yang dimaksud adalah:

Pertama, orangtua harus benar-benar mempersiapkan diri sebagai pengasuh anak yang baik. Setidaknya harus tahu apa yang harus dilakukan selama mengasuh anak, mampu menumbuhkembangkan  harapan anak, senantiasa memberikan saran dan nasehat yang positif pada anak, membentuk lingkungan yang kondusif, melakukan pembiasaan yang baik pada anak dan pengulangan selama diperlukan  serta memberikan hadiah berupa pujian disaat anak berhasil melakukan hal-hal yang baik dan memberikan hukuman bila anak melanggar aturan yang disepakati.

Kedua, orangtua harus memiliki konsep diri yang positif, artinya mampu memandang dirinya secara positif. Terkait dengan hal ini, orangtua harus percaya diri bahwa mereka mampu mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Kepercayaan pada diri sendiri ini penting untuk menumbuhkan keyakinan bahwa orangtua akan berhasil dalam menjalankan tugas-tugas mengasuh anak sehingga apa yang menjadi harapannya dapat tercapai. Agar dapat lebih percaya diri, orangtua harus terus berupaya untuk menemukenali potensi dan kemampuan diri yang dapat dijadikan bekal sekaligus dukungan dalam mengasuh dan mendidik anak.

Ketiga, orangtua dalam hal ini ayah dan ibu harus berbagi peran dalam pengasuhan anak sesuai dengan porsinya masing-masing. Ayah dengan segala “ketegasan” sikapnya dapat mendidik anak agar dapat lebih mandiri dan memiliki keteguhan dalam pendirian dan tindakan serta tetap tegar ketika menghadapi tantangan dan hambatan. Sementara ibu dengan segala “kelembutan” hatinya dapat menanamkan jiwa sosial dan rasa kemanusiaannya. Juga menanamkan sikap saling menghormati, menghargai dan berperilaku yang mendasarkan pada norma agama dan budaya yang dianut. Dengan demikian karakter anak akan terbentuk yang menjadikannya sebagai anak yang berkepribadian luhur.

Keempat, orangtua harus mampu menjaga anak dari pengaruh buruk media. Hal ini mengingat, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, telah menyebabkan media cetak dan elektronik berkembang pesat sehingga semua informasi dapat diakses oleh anak dengan leluasa. Persoalannya banyak informasi yang belum saatnya diketahui anak atau memang tidak layak dikonsumsi oleh anak. Di sinilah pentingnya peran orangtua sebagai  pengendali atau filter yang efektif agar pengaruh media tidak berdampak buruk pada pola piker, sikap dan perilaku anak.

Apabila empat hal tersebut dapat dilakukan oleh para orangtua dengan baik pada anak-anaknya, maka penulis yakin mereka akan menjadi orangtua hebat dalam mengasuh anak dan yakin pula mereka akan  berhasil membawa anak sebagai generasi yang berkualitas dan berkarakter. Apabila ini dipadukan dengan pendidikan formal dan non formal yang baik,  dapat dipastikan bahwa generasi masa depan yang handal akan dapat terwujud. Bukan saja cerdas, sehat dan trampil, tetapi juga selalu ceria, bersemangat menggapai masa depan, berkepribadian luhur dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menjadi orangtua yang hebat dalam mengasuh anak tidak harus berpendidikan tinggi. Orang yang berpendidikan rendah, bahkan yang tidak bersekolah pun memiliki peluang yang sama untuk menjadi orangtua hebat.  Tergantung pada niat dan bagaimana mereka mampu memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik mungkin, sehingga ayah dan ibu sebagai orangtua dapat bersama-sama mengasuh dan mendidik anak secara sungguh-sungguh  dengan memperhatikan kaidah dan pedoman dalam pengasuhan anak yang berlaku.

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak