Tinjauan Ilmiah KKBPK

Jum`at, 8 Februari 2019 20:37:43 - Oleh : Drs. Mardiya

 

      MENCEGAH KENAKALAN  REMAJA     MELALUI KELUARGA

Oleh :

Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Intisari

 

Masa remaja erat dikaitkan dan sering kali di hubung - hubungkan dengan yang namanya kenakalan remaja. Masa remaja secara umum merupakan peralihan transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja.

Pada masa remaja banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri anak, baik segi psikis maupun fisiknya. Dalam segi psikis. Banyak teori-teori perkembangan yang memaparkan ketidakseleraan, gangguan emosi, dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan - tekanan yang dialami remaja karena perubahan - perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat dari lingkungan. Masalah yang timbul apabila tidak memenuhi tugas perkembangan remaja.

Melihat akar masalahya, upaya mencegah kenakalan remaja akan sangat efektif bila dilakukan melalui pembinaan ketahanan keluarga. Upaya pembinaan ketahanan keluarga ini adalah dengan mengoptimalkan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga, terutama fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, cinta kasih dan fungsi melindungi.

 

 

A.  Pendahuluan

Persoalan kenakalan remaja di negara kita beberapa tahun belakangan ini telah memasuki titik kritis. Selain frekuensi dan intensitasnya terus meningkat, kenakalan remaja saat ini sudah mengarah pada perbuatan yang melanggar norma, hukum, dan agama. Betapa sering kita sekarang ini dikejutkan oleh berita-berita kenakalan remaja yang sudah kelewat batas. Ada anak-anak yang tega membunuh ayah kandungnya gara-gara tidak mau membelikan sepeda motor. Ada pula yang dengan sadis mencederai atau menganiaya teman sekolahnya hanya sekedar untuk meminta sejumlah uang. Bahkan tidak sedikit yang berani kurang ajar menipu, mencuri atau merampok karena ingin hidup enak dan foya-foya tanpa mau bekerja keras. Belum lagi banyaknya remaja yang sudah memiliki kebiasaan buruk seperti merokok, minum-minuman keras, berjudi, berkelahi, membuat keonaran, merusak serta melakukan seks bebas dan mengkonsumsi narkoba.

 

B. Permasalahan Remaja

Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas –tugas tersebut,yaitu:

1.     Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yag berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi , penyesuaian social, tugas dan nilai.

2.    Masalah khas remaja, yaitu maslah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian, kemandirian, kesalah fahaman atau penelian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban di bebankan oleh orang tua.

Remaja masa kini banyak sekali tekanan-tekanan yang mereka dapatkan, mulai dari perkembangan fisiologi ditambah dengan kondisi lingkungan dan social budaya serta perkembangan teknologi yang semakin pesat. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau perilaku yang mengakibatkan bentuk penimpangan perilaku yang disebut kenakalan remaja.

 

B.  Pengertian dan Sebab-sebab Kenakalan Remaja

I Gusti Ayu Trisna Windiani dan Soetjiningsih (2004) mendefinisikan kenakalan remaja sebagai tindakan kriminal (sesuai dengan batasan hukum setempat) yang dilakukan oleh remaja berumur kurang dari 17 tahun atau 18 tahun. Batasan kenakalan remaja secara medis sering diidentikkan dengan gangguan tingkah laku.

Menurut Nursisto (1994), remaja yang nakal,  boleh jadi disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya karena pendidikan di sekolah yang amburadul atau lingkungan pergaulan di masyarakat yang cenderung negatif. Dengan demikian, motif yang mendorongnya menurut Kartini Kartono (1995) dapat berupa: (1) konflik batin sendiri dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional; (2) kesukaan untuk meniru dan berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya; (3) salah asuh dan salah dalam mendidik anak sehingga anak terlanjur manja; dan sebagainya. Namun melihat dari proporsi mereka yang lebih banyak tinggal dalam keluarga – apalagi keluarga merupakan dunia yang begitu dekat dengan anak – maka wajar apabila kenakalan remaja sangat besar kemungkinannya disebabkan oleh kesalahan keluarga dalam mendidik anak. Atau karena kondisi keluarga yang ketahanannya kurang, broken home atau keluarga yang telah pecah di mana ayah dan ibu sebagai suami isteri telah bercerai.

Menurut Hurlock (1973) faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja (dari segi lingkungan)

Faktor lingkungan merupakan peran utama dalam membantu masa remaja untuk menyelesaikan tugas perkembangannya.

1.      Keluarga (rumah tangga)

Anak/ remaja yang dibebaskan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik atau disharmoni keluarga. Maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadia menjadi kepribadian antisosial dan perilaku menyimpang lebih besar di bandingkan dengan anak yang dibesarkan dalam keluarga sehat atau harmonis (sakinah)

2.      Sekolah

Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menggangu proses belajar mengajar anak didik. Misalnya, kurikulum sekolah yang sering berganti, muatan agama/ budi pekerti yang kurang. Dalam hal ini yang paling berperan adalah guru agama, guru pkn, dan bimbingan konseling.

3.      Kondisi masyarakat (lingkungan social)

Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau rawan merupakan faktor yang konduktif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor kerwaan masyarakat dan kedua faktor daerah rawan.

Faktor kerawaan masyarakat (lingkungan)

a.       Tempat-tempat hiburan yang buka hingga pagi.

b.      Peredaran alkohol, narkotika obat-obatan terlarang.

c.       Pengangguran

d.      Beredarnya bacaan, tontonan, tv, majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan.

e.       Pencemaran lingkungan.

f.       Tindak kekerasan dan criminal.

g.      Kesenjangan sosial.

Daerah rawan ( gangguan kantibmas)

a.       Penyalah gunaan alkohol, narkotika dan zat adiktif lainnya.

b.      Perkelahian.

c.       Kebut-kebutan.

d.      Pencurian, perampasan, penodongan, perampokan.

e.       Perkosaan.

f.       Pembunuhan.

g.      Pengrusakan.

Faktor-faktor kenakalan remaja menurut Hurlock (1973) antara lain: (1) Dasar agama yang kurang, (2) Kurangnya kasih sayang orang tua, (3) Pergaulan dengan teman yang tidak sebaya, (4) Peran dari perkembangan iptek yang berdampak negative, (5) Kebebasan yang berlebihan, (6) Masalah yang di pendam.

 

C.  Kondisi Psikologis sebagai Pendorong Kenakalan Remaja

Perlu diketahui bahwa masa remaja adalah masa “ombak dan badai”. Masa ini ditandai dengan berbagai pergolakan jiwa. Seiring dengan perubahan fisik dan psikis, seorang remaja jiwanya akan mudah berkecamuk sehingga dalam pribadi remaja akan timbul berbagai goncangan. Goncangan ini  menurut Nursisto (1994) ditandai dengan berkembangnya fantasi yang menggelegak, disusul rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang semula dianggap tabu. Bahkan lalu diikuti oleh timbulnya dorongan untuk mencoba-coba sekaligus mencari berbagai pengalaman. Ini yang menjadikan dunia  remaja penuh dinamika  dan problematik.

Dalam konteks yang demikian itu, seorang remaja yang memasuki masa puber pasti membutuhkan perhatian dan kasih sayang, kehangatan dan cinta, disamping kebutuhan-kebutuhan lain yang bersifat fisik (Soetjiningsih, 2004). Apabila ini tidak terpenuhi, maka sang remaja akan melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya itu tanpa memikirkan akibat di belakangnya. Itulah sebabnya, mengapa para remaja banyak yang terjerumus dalam perbuatan nista. Karena memang faktor emosi lebih kuat pengaruhnya dari pada nalar maupun logikanya.

 

D.  Mencegah Kenakalan Remaja

Menurut Soedibyo Alimoeso (2015), keluarga merupakan wahana utama dan pertama untuk mengembangkan potensi keluarga, mengembangkan sosial dan ekonomi keluarga, dan school of love atau penyemaian 8 fungsi keluarga. “Harus kita akui, bahwa kenakalan remaja saat ini cukup tinggi. Keluarga berperan dalam membimbing dan mendidik anak remajanya dengan membangun ketahanan keluarga. Jika itu dibiarkan, akan mengganggu ketahanan keluarga itu sendiri,” terang Soedibyo.

Melalui program PK3, papar Soedibyo, dapat membangun ketahanan dan kesejahteraan keluarga sebagai landasan untuk mewujudkan kualitas keluarga menjadi SDM yang mengarah pada pembangunan. Ia menjelaskan, terdapat empat tujuan dari program PK3 tersebut.

Pertama, terbangunnya ketahanan keluarga balita dan anak  serta  kualitas anak dalam memenuhi hak tumbuh kembang anak. Kedua, terbangunnya ketahanan keluarga remaja dan kualitas remaja  dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga. Ketiga, meningkatnya kualitas lansia dan pemberdayaan  keluarga rentan sehingga mampu berperan dalam kehidupan keluarga. Keempat, terwujudnya pemberdayaan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Menurut Soedibyo, peran pemerintah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut dengan mengeluarkan kebijakan demi pembangunan keluarga Indonesia. Kebijakannya itu meliputi penguatan komitmen para pengelola dan pelaksana, peningkatan akses pelayanan, peningkatan kualitas pelayanan, dan memperkuat kemitraan.

Melihat dari akar masalahnya, upaya mencegah dan menanggulangi kenakalan remaja harus di mulai dari keluarga. Sebagai lingkungan yang pertama dan utama, keluarga harus dibangun agar memiliki ketahanan yang kuat. Ketahanan yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik-materiil dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin (Bab I Pasal 1 Ayat 15 UU No 10 Tahun 1992). Caranya adalah melalui pembinaan ketahanan keluarga yang intensif.

Melalui pembinaan ketahanan keluarga yang sungguh-sungguh khususmya melalui optimalisasi pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga, menurut Mardiya (2000) keluarga akan menjadi tempat bernaung yang nyaman bagi anak. Disamping itu, merupakan tempat yang baik pula untuk berkreasi dan berprestasi. Terkait dengan itu, tugas utama dan pertama bagi keluarga adalah menciptakan suasana yang agamis dalam keluarga. Orangtua harus dapat menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain dalam menjalankan ibadah, mentaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh agama, memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan keagamaan, serta bertindak dan berperilaku yang mencerminkan insan penuh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tugas lain yang perlu dilaksanakan adalah menanamkan dan menumbuhkembangkan rasa mencintai budaya sendiri pada anak sedini mungkin. Sehingga anak memiliki pandangan bahwa budaya nasional tidak kalah baiknya dibanding dengan budaya luar seperti “ngepil” dan “nenggak” atau kehidupan hura-hura yang lain. Dengan demikian nantinya keluarga akan mampu berfungsi sebagai wahana untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan sosial budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Tidak dapat diabaikan pula, orangtua (ayah dan ibu) perlu memelihara hubungan yang akrab antar sesamanya dan antara orangtua dengan anak-anaknya. Dan kalau ada perselisihan perlu diupayakan jalan keluar yang bijaksana. Dengan demikian keluarga dapat diharapkan mampu berfungsi untuk mewujudkan proses pengembangan timbal balik rasa cinta dan kasih sayang antara setiap anggota keluarga, anta kekerabatan serta antar generasi yang merupakan dasar terciptanya keluarga harmonis.

Disamping itu,  keluarga harus dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi anak yang memberikan rasa tenteram lahir dan batin, sejak janin dalam kandungan sampai lanjut usia. Fungsi ini dapat dijalankan secara optimal dengan jalan memelihara keutuhan rumah tangga serta memelihara ketahanan keluarga terhadap benturan yang datang dari luar baik yang bersifat sosial budaya maupun ideologi.

Melalui pembinaan ketahanan keluarga yang diarahkan pada berbagai hal tersebut di atas, dapat diyakini bahwa kenakalan remaja secara perlahan namun pasti akan dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya, tanpa harus melalui tindak kekerasan dengan segala resikonya. Karena hanya dengan cara ini anak yang sudah terlanjur nakal akan merasa di “manusia” kan, tidak diasingkan, disingkirkan atau dikucilkan. Dengan demikian nantinya mereka secara berangsur-angsur akan merubah sikap dan perilakunya kembali ke jalan yang benar dan diterima di lingkungan keluarganya. Disamping itu, tentunya mereka akan menjadi manusia yang kembali berpikiran positif/konstruktif yang siap dibina menjadi manusia pembangunan yang handal dan sangat dibutuhkan di negeri ini.

 

E.     Kesimpulan

Kenakalan remaja merupakan permasalahan yang berkaitan dengan perilaku negatif anak remaja yang harus segera dicegah. Karena bila tidak, bukan saja remaja itu sendiri yang dirugikan, tetapi juga keluarga, masyarakat dan bangsa.

Melihat akar masalahya, upaya mencegah kenakalan remaja akan sangat efektif bila dilakukan melalui pembinaan ketahanan keluarga. Upaya pembinaan ketahanan keluarga ini adalah dengan mengoptimalkan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga, terutama fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, cinta kasih dan fungsi melindungi.

 

]

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kartini Kartono. 1995. Psikologi Anak. Bandung: Penerbit Mandar Maju.

Mardiya. 2000. Kiat-kiat Khusus Membangun Keluarga Sejahtera. Wates: BKKBN Kulon Progo.

Nursisto. 1994.  Kenakalan Remaja Potret Buram Kependidikan. Yogyakarta: SMA 1 Yogyakarta.

Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sahung Seto.

Undang-Undang  No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak