Tinjauan Ilmiah KKBPK

Jum`at, 25 Januari 2019 10:10:19 - Oleh : Drs, Mardiya

Tinjauan Ilmiah

 

MEWASPADAI DAMPAK BURUK MENONTON

TELEVISI BAGI ANAK

Oleh :

Drs. Mardiya

Ka Bidang Pengendalian Penduduk

 

Intisari 

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan industri terutama yang berkaitan dengan sarana pra sarana telekomunikasi, tidak selamanya berpengaruh positif pada anak. Televisi yang selama ini dianggap sebagai sarana paling praktis untuk melihat peristiwa atau kejadian di dunia luar,  ternyata telah membawa pada sejumlah persoalan pada anak-anak kita yang berkaitan dengan sikap dan perilakunya sehari-hari. Bukan sekedar rasa ketergantungan atau keinginannya yang kuat untuk terus menonton televisi, tetapi juga karena sikap dan  tingkah laku mereka yang cenderung negatif karena berbagai tayangan yang disajikan di layar kaca ini memang tidak mendidik. Dampak buruk menonton televisi harus benar-benar dipahami oleh para orangtua, untuk kemudian mencari cara yang terbaik untuk mengatasinya.

Kewajiban orang tua dan pendidik adalah mengarahkan anak untuk membatasi waktu menonton televisi. Di samping itu juga memberi penjelasan pada anak bahwa tidak semua acara televisi cocok untuk mereka. Bagi orang tua khususnya, menjadi tugas dan kewajibannya adalah melakukan pendampingan ketika anak menonton televisi. Acara yang boleh dilihat pun juga perlu dibatasi pada acara-acara yang memang cocok untuk mereka. Para orang tua juga harus memberi batasan yang tegas kapan waktunya belajar, membantu orang tua dan menonton televisi.

 

Pendahuluan

Sebagai media komunikasi dan hiburan, televisi sudah bukan merupakan barang baru dan mewah baik di kalangan masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Sekarang ini, hampir semua rumah atau keluarga sudah memiliki pesawat televisi yang dijadikan media untuk memperoleh banyak informasi dari dunia luar atau sebagai media pelepas penat setelah bekerja seharian.

Media yang satu ini memang memiliki banyak keunggulan. Kalau radio hanya bisa menampilkan suara yang praktis hanya bisa dinikmati oleh anak usia ABG (Anak Baru Gede) ke atas, maka melalui media televisi ini anak balita pun sudah bisa menikmatinya. Melalui gambar-gambar yang menarik dan dirangkai dengan baik, media ini akan dapat mengikat perhatian pemirsanya. Melalui gambar, perhatian pemirsa yang sudah mulai lemah, dapat kembali dipusatkan pada pesan yang disampaikan. Melalui gambar pula menurut Sunandar Ngaliun (1997: 51) pemirsa dapat dibantu untuk menafsirkan makna pesan yang disampaikan. Bahkan menurut studi yang pernah dilakukan, gambar memungkinkan kita menyerap 30% lebih banyak daripada tanpa gambar untuk waktu yang sama. Konon, pesan yang kita terima dengan bantuan gambar akan lebih lama tersimpan dalam ingatan daripada tanpa gambar.

Dengan beberapa keunggulannya, telah menyebabkan sebagian besar anak-anak kita yang masih bersekolah sering kecanduan menonton televisi sepulang sekolah atau bermain. Hampir dapat dipastikan pagi atau sore terlebih di hari libur, mereka duduk tenang di depan televisi dan serius mengikuti acara-acara di televisi yang sekarang ini tersaji secara menarik. Yang kemudian menjadi persoalan adalah anak menjadi keranjingan nonton televisi dan  lupa  akan tugasnya untuk belajar, belum lagi pengaruh dari siaran televisi itu sendiri yang tidak kalah bahayanya.

 

Peran Ganda Televisi

Menurut Bambang Setiawan (2001: 6) pada umumnya anak-anak mulai berinteraksi dengan televisi sekitar usia 2 tahun. Televisi nampaknya merupakan media yang pertama kali dikenal oleh anak-anak karena kehadirannya di rumah-rumah serta untuk menontonnya tidak memerlukan kemampuan tertentu seperti surat kabar yang mengharuskan melek huruf untuk dapat mengakses informasinya. Menurut hasil penelitian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) anak-anak menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam sehari dari waktu luangnya.

Karena televisi adalah media massa yang paling siap untuk diakses anak-anak, maka tingkat kepercayaan terhadap televisi di mata anak-anak cukup tinggi. Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi ini, menjadikan televisi memiliki peran ganda di mata anak. Yakni sebagai media hiburan dan sebagai media pembentuk sikap dan perilaku. Dalam pandangan  Maya Fitrianingsih (2005: 10) sekarang ini, sering kita temui bagaimana keluhan orang tua atas perilaku anaknya yang masih balita setelah menonton televisi hampir setiap saat. Apalagi sekarang ini belasan stasiun televisi telah mengunjungi pemirsanya hampir 24 jam, dari pagi hingga pagi.

Industri pertelivisian sendiri pada saat ini memang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ini ditandai oleh dengan bermunculannya stasiun televisi yang baru. Banyaknya stasiun televisi yang baru, seakan-akan telah memanjakan kita da anak-anak kita sebagai pemirsa. Kita dengan mudah memilih tayangan yang menarik sesuai dengan selera.

Menurut Sri Sugiyati (2006: 27) media televisi menjadi ladang penanaman modal yang menjanjikan keuntungan besar, terutama bagi kaum kapitalis. Kita mengetahui bahwa eksistensi suatu stasiun televisi tidak dapat lepas dari perolehan iklannya. Semakin banyak iklan yang tersedot, berarti semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Di sinilah, hukum bisnis berlaku. Stasiun televisi terutama televisi swasta yang bersifat komersial berkompetisi menampilkan acara-acara yang menarik pemirsanya baik yang bersifat hiburan maupun berita/informasi tanpa mempertimbangkan unsur etika dan moral secara lebih cermat. Tayangan yang mereka sajikan seakan-akan menuruti selera pemirsanya. Ini dilakukan agar stasiun televisi tidak ditinggalkan para pemirsa.

Tayangan yang disajikan juga cukup bervariasi dan baru ngetren. Banyaknya tayangan yang baru ngetren bisa kita jumpai hampir di semua stasiun televisi yang ada. Tayangan itu misalnya, sajian berbau mistik (horor), sinetron-sinetron yang yang mengangkat tema-tema persoalan remaja masa kii, dan lainnya. Sajian-sajian tersebut mereka kemas dengan amat menarik untuk dinikmati.

Mewaspadai Dampak Buruk Televisi

Dengan tak lepas dari unsur bisnis para pelakunya, televisi menjadi kotak ajaib yang menawarkan berbagai mata acara, untuk beragam usia dan beragam kebutuhan. Dampak buruk siaran televisi mulai muncul pada anak-anak kita yang masih balita, karena ternyata tidak semua acara di televisi bersifat  mendidik. Muatan-muatan pendidikan banyak ditinggalkan oleh para pengelola atau pemilik stasiun televiswi. Mereka  cuma cenderung mengejar tayangan dan asal menarik saja.

Menurut Anik Rohani Yudhastawa (2005: 10) sekarang ini banyak acara televisi yang menampilkan acara berbau kekerasan, percintaan/pacaran, perselingkuhan, perkosaan, kemewahan dan lain-lain. Tayangan-tayangan televisi yang demikianlah yang membahayakan masa depan anak-anak kita. Sebab bila tidak ada klarifikasi atau penjelasan dari orang tua atau orang lain yang lebih dewasa, maka dalam benaknya bisa terjadi itulah nilai yang harus ditiru. Hal ini sejalan dengan pendapat Sunandar Ngaliun (1997: 52) bahwa siaran televisi bisa membangkitkan perasaan intim dimana kontak emosi bisa terjadi. Sehingga apa yang dilihat di televisi itulah yang selalu membekas dalam hatinya.

Atas dasar itu Anik Rahmani Yudhastawa memerinci bahwa perilaku negatif yang kemungkinan terjadi pada anak kita yang keranjingan menonton televisi adalah tumbuhnya budaya kekerasan, baku hantam, sadisme, anarkhisme, materialistis, individualistis, hedonisme (kepentingan sesaat), menurunnya rasa malu dan tanggung jawab sehingga tidak dapat membedakan benar salah, baik buruk, hak – batil, angkara murka – bijaksana, bersih – kotor, memalukan – tidak, dosa – tidak, dan perilaku hewani –manusiawi.

Hasil penelitian Bobi Guntarto (1989: 50) menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara menonton film televisi yang mengandung kekerasan dengan agresivitas anak. Adapun  yang dimaksud dengan agresivitas adalah respon anak terhadap skala tingkah laku, anti sosial, agresif, persetujuannya mengenai kekerasan, penerimaan penggunaan cara kekerasan, sampai pada serangan fisik dan tingkah laku kenakalan.

Selanjutnya berdasarkan kajian yang dilakukan di Amerika, dimana orang Amerika pada usia 6 – 18 tahun rata-rata menonton televisi selama 6 jam per hari, pola hidup dan pikirannya telah dibentuk oleh media tersebut. Ini berarti, jika hal tersebut terjadi pada anak-anak kita yang masih balita, akibatnya akan lebih fatal, karena anak memiliki kebiasaan meniru yang sangat kuat.

Di sinilah bahaya menonton televisi, dimana tayangannya tidak lagi mendidik. Menurut hemat penulis, dengan banyaknya iklan berbagai produk baik berupa makanan, minuman, pakaian, alat permainan, dan lain-lain, telah menyebabkan anak menjadi berperilaku konsumtif, terlalu membanggakan produk luar negeri dan malu menggunakan produk sendiri. Ini menjadi dampak buruk lainnya dari siaran televisi yang tidak mendidik terhadap  anak-anak kita baik yang sudah remaja maupun mereka yang masih balita terutama yang memasuki usia pra sekolah 4 – 5  tahun. Bila hal ini terus dibiarkan tanpa kendali, efek buruknya menjadi sangat banyak pada anak-anak kita. Mereka menjadi malas belajar, malas membantu orang tua dan berperilaku yang tidak sesuai dengan norma dan etika yang berlaku di masyarakat.

 

Kewajiban Orangtua dan Pendidik

Mewaspadai dampak buruk siaran televisi, kewajiban orang tua dan pendidik adalah mengarahkan anak untuk membatasi waktu menonton televisi. Di samping itu juga memberi penjelasan pada anak bahwa tidak semua acara televisi cocok untuk mereka.

Bagi orang tua khususnya, menjadi tugas dan kewajibannya adalah melakukan pendampingan ketika anak menonton televisi. Acara yang boleh dilihat pun juga perlu dibatasi pada acara-acara yang memang cocok untuk mereka. Para orang tua juga harus memberi batasan yang tegas kapan waktunya belajar, membantu orang tua dan menonton televisi. Sehingga sang anak tidak melupakan kewajibannya sebagai siswa di sekolah, sebagai anak yang berkewajiban membantu orang tuanya dan sebagai insan manusia yang memerlukan hiburan.

Siapapun pasti berharap, anak-anak kita pada masa dewasanya nanti menjadi orang yang berguna, cerdas, trampil, berkepribadian luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Para orangtua pun berharap, nantinya sang anak menjadi orang yang dewasa dan mandiri. Dan semuanya itu tidak akan diperoleh melalui acara-acara televisi yang tidak mendidik. Jadi orangtua harus mewaspadai dampak buruk dari televisi.

Kesimpulan

Sebagai media komunikasi dan hiburan, televisi membawa dampak positif dan negatif. Positif karena berbagai informasi dan pesan yang disampaikan dapat memperluas cakrawala anak-anak kita yang masih sekolah. Berdampak negatif karena sekarang-sekarang ini banyak tayangan televisi yang menampilkan budaya kekerasan, seks bebas, kemewahan dan lain-lain yang menyebabkan anak berperilaku konsumtif, dan permisif  (serba membolehkan) tanpa batasan norma dan agama.

Tugas orang tua dan pendidik adalah mengarahkan anak agar tidak melupakan kewajibannya sebagai pelajar/siswa di sekolah untuk terus belajar dan belajar, agar mereka dapat menggapai masa depannya secara lebih baik di samping mampu menjadi insan berkualitas yang potensial mendukung pembangunan masyarakat dan bangsa. 


DAFTAR PUSTAKA

 

Anik Rahmani Yudhastawa (2005). “Pendampingan Nonton Televisi Sejak Balita”. Kedaulatan Rakyat 13 Mei 2—5 hal 10.

 

Bambang Setiawan (2001). Peranan Media Massa  pada Pembentukan Karakter Anak. Makalah Semiloka Peran Orangtua, Lembaga Pendidikan dan Media Massa dalam Character Building dan Pola Asuh Anak dalam Keluarga Berkualitas dan Berketahanan di University Club UGM Yogyakarta. Rabu   20 Juni 2001.

 

Bobi Guntarto. 1989. Film Televisi dan Agresifitas Anak. Yogyakarta : Fisipol UGM.

 

Maya Fitrianingsih (2005). “Mewaspadai TV sebagai Orangtua Kedua Bagi Anak”. Koran Merapi, 20 September 2005. hal 10.

 

Sri Sugiyati. 2008. “Menggugat Tanggungjawab Sosial Televisi”.  Majalah Komunikasi dan Informatika Gagasan Vol 10 No 1/April 2006.

 

Sunandar Ngaliun (1997). Sekapur Sirih Kehumasan. Jakarta : BKKBN Pusat.

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak